Minggu, 24 Oktober 2010

SEJARAH UMUM SANGIHE

KEBUDAYAAN SANGIHE
CERITA
SANGIANG KONDA WULAENG
SANG PUTRI CAHAYA
Untuk mendalami kebudayaan sangihe, sebaiknya memahami
sangihe, sastera lisan sangihe adalah salah satu bukti peninggalan kebudayaan
sangihe masa lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini
lisan sangihe yang paling melegenda adalah
tersebut kita dapat melihat keberadaan sangihe dari penduduk mula
terbentuknya kerajaan-kerajaan yang menjadi dasar terbentuknya sebuah suku
yang dinamakan suku sangihe. Kisah G
tergambar secara utuh dalam “
sangiang konda sebagai ibu dari orang
pembentukan kerajaan sudah ditulis banyak orang meskipun hanya dalam
tulisan-tulisan lepas, bukan dalam sebuah buku yang sangat lengkap
Ada banyak tulisan yang dilengkapi den
bisa diakui karena semua cerita tentang Gumansalangi, tidak pernah dibukukan
dimasa lalu sehingga terjadi kesimpangsiuran. Mungkin cerita lengkap tentang
Sangihe boleh ditelusuri di Belanda untuk manda
dan dapat diakui oleh publik yang lebih luas.
Seperti pepatah mengatakan “tak ada rotan akarpun jadi”
baru tidak bisa lagi menunggu “pemerintah”
penulisan tentang sejarah dan kebudayaan sangihe secara komprehensip. Karena
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - I
GUMANSALANGI
sastera lisan
ngihe ini. Dari beberapa sastera
cerita Gumansalangi. Dari cerita
mula-mula sampai
. Gumansalangi sebagai penduduk mula-mula
Tamo” karena tamo telah menjiwai kelahiran
orang-orang sangihe. Cerita Gumansalangi dan
lam lengkap.
dengan tahun kejadian, tetapi belum
mandapatkan kepastian yang lebih ilmiah
jadi”. Kita sebagai generasi
untuk mendanai penelitian dan
1
” gan astian .
2
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
lebih banyak orang sangihe “ndak” mau peduli, dari pada yang terpanggil untuk
berbuat menggali kekayaan budaya.
Tokoh Gumansalangi sudah diceritakan berabad-abad lamanya di
kepulauan sangihe melalui cerita lisan dari generasi kegenerasi secara turuntemurun.
Sejak masuknya bangsa Eropa, cerita Gumansalangi mulai ditulis oleh
para budayawan, sejarahwan dan pemerhati sejarah dan kebudayaan sangihe lainnya
dalam bentuk tulisan-tulisan lepas.
Cerita Gumansalangi pertama kali diterjemahkan Desember 1993 di Biola
University – Los Angles. Kisah Gumansalangi terbaru ditulis oleh Kenneth R.
Maryott, seorang berkebangsaan Amerika yang bekerja sebagai dosen bahasa
Inggris di Philliphin dalam buku yang berjudul “ Manga wĕkeng AsaĜ ‘u Tau
Sangihĕ “. Buku tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sangihe,bahasa
Inggris dan bahasa Indonesia, diterbitkan oleh “ The Committee For The Promotion
Of The Sangir Language, Davao - Phillphiness, 1995. Kenneth bertindak sebagai
editor, berdasarkan penuturan dari Bapak Haremson E. Juda. Disamping itu terdapat
juga cerita tentang Makaampo. Cerita Makaampo pertama kali ditulis dan
dipublikasikan dengan judul “Bĕkeng Makaampo (The Story of Makaampo)” dari
artikel journal “Majalah Bijdragen tot de taal,- Land – en Volkendkunde, Volume
113 (1957)
Cerita Gumansalangi berasal dari kepulauan Sangihe Talaud, yang
diceritakan sebagai folklore atau cerita rakyat. (Folklore adalah unsure kebudayaan
dari masa silam yang menuju ke ambang kepunahan). Banyak cerita yang
berkembang di kepuluan sangihe tentang Gumansalangi tetapi intinya berkisah
tentang penduduk sangihe pertama. Permasalahannya adalah Siapa dan dari mana
asal Gumansalangi yang sebenar – benarnya. Sampai kapanpun tidak akan mungkin
ditemukan kebenaran secarah ilmiah siapa Gumansalangi. Penyebabnya adalah
belum ditemukan bukti melalui naskah kuno atau prasasti yang menulis atau
memberikan gambaran tentang kehidupan Gumansalangi. Hal ini terjadi juga pada
beberapa folklore lain disulawesi utara seperti cerita Toar dan Lumimuut dari
Minahasa, cerita Gumalangi dan isterinya Tendeduata penghuni pertama Bolaang
Mongondow, cerita seperti ini tetap menjadi legenda.
Kenapa cerita Gumansalangi memiliki banyak bentuk,dari alur cerita
maupun kesesuaiannya dengan sejarah Sangihe. Hal ini disebabkan oleh beberapa
hal yaitu : Cerita Gumansalangi merupakan sastera lisan, yang hanya diceritakan
dari mulut ke mulut, keadaan ini memungkinkan terjadinya berbagai perubahan.
Perubahan dapat terjadi berdasarkan siapa yang pertama mengisahkan, siapa yang
mendengarkan, kepada siapa kisah itu diturunkan dan dilingkungan apa cerita
itu dikembangkan.
3
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Berdasarkan beberapa cerita yang berkembang dimasyarakat sangihe
terdapat beberapa cerita berdasarkan tempat dimana cerita itu berkembang
diantaranya ; Cerita Gumansalangi versi Siau, Cerita Gumansalangi versi Talaud,
Cerita Gumansalangi versi pulau Sangihe besar. Dikalangan orang sangihe sendiri
terdapat beberapa bentuk, seperti versi cerita Gumansalangi dari orang-orang yang
ada di bekas kerajaan Tabukan dan diluar kerajaan Tabukan. Diantara beberapa
versi tersebut dapat dipaparkan beberapa versi yang memiliki perbedaan.
a. Versi pertama (versi siau)
Gumansalangi adalah kulano pertama di Pulau Sangihe besar.
Gumansalangi bersiteri Ondaasa yang disebut juga Sangiangkonda atau
Kondawulaeng. Gumansalangi adalah Putera Mahkota dari kesultanan
Cotabato,Mindanao Selatan akhir abad ke XII. Mereka diperintahkan untuk
pergi ketimur oleh ayah Gumansalangi dengan maksud supaya mereka
dapat mendirikan kerajaan baru. Berangkatlah mereka dengan
menunggangi ular terbang sampai ke Pulau Marulung (pulau balut),
kemudian keselatan menuju pulau Mandolokang (pulau Taghulandang)
dipulau ini mereka tidak turun tetapi melanjutkan perjalanan ke pulau
lain melewati pulau Siau dan turun di pulau Sangihe besar.
Dalam perjalanan, ikut pula saudara laki-laki dari Kondaasa
bernama Pangeran Bawangunglare. Mereka lalu mendarat di pantai
Saluhe. Dikemudian hari nama Saluhe berubah menjadi Saluhang dan kini
menjadi Salurang.
Karena Gumansalangi adalah seorang bangsawan maka tempat
tersebut dinamakan Saluhang yang berararti ”dieluk-elukan” dan
dipelihara supaya dia bertumbuh dengan baik dan subur. Sejak
kedatangan Gumansalangi dan Kondaasa di saluhe, selalu saja terdengar
gemuruh dan terlihat kilat yang datang dari gunung. Gumansalangi lalu
diberikan gelar Medellu yg berarti Guntur dan Kondaasa diberikan gelar
Mengkila yang berarti cahaya kilat. Gumansalangi dan Kondaasa
memiliki dua orang putra bernama Melintangnusa dan Melikunusa.
Gumansalangi lalu mendirikan kerajaan pada tahun 1300. Wilayah
kerajaannya sampai ke Malurung (Pulau Balut / Philliphina).Saudara lakilaki
Kondaasa melanjutkan perjalanan ke kepulauan Talaud tepatnya di
pulau Kabaruan. Sampai saat ini tempat yang pertama kali diinjak
oleh Pangeran Bawangunglare, dinamakan Pangeran.
4
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Gumansalangi menyerahkan waris raja kepada anaknya yang
sulung Melintangnusa pada tahun 1350. Anak bungsu Melikunusa
mengembara ke Mongondow dan memperisteri Menongsangiang putri raja
Mongondow. Melikunusa meninggal di Mongondow sedangkan
Melintangnusa meninggal di Philliphina pada tahun 1400. Sesudah
wafatnya Malintangnusa, kerajaan terbagi dua yaitu kerajaan Utara
bernama Sahabe atau Lumage dan kerajaan Selatan bernama Manuwo
atau Salurang. (dari beberapa catatan lepas pemerhati sejarah sangihe).
b. Versi kedua
Terbentuknya kerajaan pertama Sangihe berakar dari cerita
tentang Gumansalangi. Humansandulage beristeri Tendensehiwu dan
memperanakan Datung Dellu. Datung Dellu bersiteri Hiwungelo dan
memperanakan Gumansalangi.
Gumansalangi, setelah mempersunting Ondaasa berlayar dari Molibagu
melalui pulau Ruang,Tagulandang,Biaro,Siau terus ke Mindanao kemudian
kepulau Sangihe, mereka tiba di Kauhis lalu mendaki Gunung
Sahendarumang dan berdiam disana sampai terbentuknya kerajaan Sangihe
pertama bernama Tampungang Lawo pada tahun 1425.
( Iverdikson Tinungki dalam tabloid Zona utara )
c. Versi ketiga
Gumansalangi adalah anak seorang raja dari sebuah kerajan kecil
diwilayah Philiphina bagian selatan. Ibunya meninggal ketika
Gumansalangi masih kecil. Raja kemudian menikah lagi dengan
perempuan lain dan melahirkan seorang puteri. Pada suatu pesta sang
puteri atas perintah ibunya mempengaruhi Raja dengan sebuah permintaan
dan berkata ”harta kekayaan tak penting bagiku yang kuinginkan adalah
agar Ayah dapat membunuh Gumansalangi. Permintaan ini dilakukan agar
tahta kerajaan tidak jatuh ketangan Gumansalangi.
Keinginan itu diketahui oleh Batahalawo dan Batahasulu atau
Manderesulu orang sakti kerajaan pengikut Gumansalangi, mereka lalu
meberitahukan rencana itu pada Gumansalangi. Batahalawo kemudian
melemparkan ikat kepala ( poporong ) kelaut yang kemudian menjelmah
5
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa
terbang Gumansalangi dan tiba di Rane dan tebing Mênanawo lalu mengitari
bukit Bowong Panamba,Dumêga dan Areng kambing. Setibanya ditempat
yang baru, setiap malam Gumansalangi hanya mendengarkan suara burung
pungguk atau Tanalawo, arti lain dari Tanalawo adalah Pulau Besar.
Pada suatu senja digubuknya kedatangan seorang nenek yang
memerlukan tempat berteduh. Malam berikutnya dia didatangi lagi seorang
gadis cantik. Dua persitiwa membingungkan hati Gumansalangi. Disaat
tenang terdengar suara yang berkata ambilah telur dipucuk pohon yang
besar itu dan jangan sampai pecah. Ditebangnyalah pohon tersebut
sampai mendapatkan sebutir telur. Telur itu kemudian pecah dalam
perjalanan pulang, dari telur itu keluar seorang puteri cantik yang
kemudian dikenal dengan nama Konda Wulaeng atau Sangiang Ondo Wasa
( puteri perintang malam ) putri khayangan. Mereka menikah lalu
dinobatkan menjadi Kasili Mědělu dan Sangiang Měngkila yang berarti
Putra Guntur dan Putri Kilat. Dinamai demikian karena pakaian sang putri
berkilau seperti emas dan pertemuan mereka ditandai gemuruh dari langit.
Cerita ini juga menjadi bagian dari lahirnya nama sangihe, dan menjadi
inspirasi untuk pemotongan kue adat Tamo.
( Toponimi,Cerita rakyat, dan data sejarah dari kawasan perbatasan Nusa
Utara, Sub Dinas kebudayaan kab.Kepl. sangihe, 2006 )
d. Versi ke empat
Tahun 1300, Pangeran Gumansalangi dibuang oleh orang tuanya dari
Cotabato – Mindanao, jauh ketengah hutan. Gumansalangi dibuang karena
tabiatnya buruk. Ditengah hutan Gumansalangi menyadari kesalahannya
sambil menangis-nangis dan tangisannya terdengar sampai kekayangan. Dia
lalu ditolong oleh raja dari kayangan dengan mengirim putri bungsunya
bernama konda kebumi untuk menemui Gumansalangi dalam penyamaran
sebagai seorang perempuan yang berpenyakit kulit.
Gumansalangi mengajak perempuan itu untuk tinggal
bersamanya. Tapi beberapa hari kemudian sang putri menghilang karena
kembali kekhayangan. Dua kali putri melakukan hal itu kepada
Gumansalangi. Ketiga kalinya sang putri datang lagi dalam rupa putri
cantik atas perintah ayahnya. Sejak saat itu mereka menjadi suami isteri.
6
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Setelah menikah, atas perintah sang raja khayangan mereka
disuruh keluar dari hutan tersebut. Kepergian mereka ditemani oleh kakak
sang putri bernama Bawangung – Lare yang menjelmah menjadi seekor
naga. Mereka berangkat ketimur dan sampai ke pulau Marulung (pulau
balut sekarang) Ditempat ini mereka tidak turun karena tidak ada tanda
seperti yang disampaikan oleh ayah mereka.Tanda-tanda tersebut adalah
nampak kilat saling menyambar dan gemuruh. Perjalanan di lanjutkan
melewati Pulau Mandalokang (Pulau taghulandang sekarang) mereka tidak
menetap disana karena tidak ada tanda dan terus ke pulau Karangetang
disana tidak juga terlihat tanda. Perjalanan dilanjutkan ke pulau
Tampungang Lawo menuju ke gunung Sahendalumang. Di puncak gunung,
mereka menemukan tanda berupa kilat dari atas dan gemuruh dari
bawah. Berdasarkan titah sang ayah, menetaplah mereka di tempat itu.
Gumansalangi diangkat menjadi raja dengan gelar Medellu yang berarti
bagaikan gemuruh, sedangkan Putri Konda dijuluki Mengkila yang berarti
putri kilat. Kerajaan itu bernama kerajaan Tampungan Lawo.
Tahta kerajaan kemudian diserahkan kepada anaknya yang sulung
Melintangnusa tapi kemudian Melintangnusa pergi ke Mindanao dan
menikah dengan putri Mindanao bernama Putri Hiabĕ anak dari raja tugis.
Adiknya Melikunusa pergi ke daerah Bolaang Mongondow dan menikah
dengan putri Mongondow bernama Menong Sangiang.
Tahta kerajaan dari Melintangnusa digantikan oleh anaknya
Bulegalangi. ( sumber cerita dari Bapak H.Juda dalam buku “ Manga wĕkeng
AsaĜ ‘u Tau Sangihĕ “).
Melihat penyampaian syair umum dalam berbagai sasalamate tamo yang
diturunkan sejak masa lalu, memberikan gambaran tentang usaha Gumansalangi
memecahkan masalah dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Tentang
telur pada pucuk tamo sudah dijadikan hiasan utama pada tamo masa lalu sbagai
simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Jika
pemaknaan filosofi Tamo adalah gambaran Gumansalangi dan konda wulaeng
maka kemungkinan besar, dari beberapa versi cerita Gumansalangi diatas yang
paling bersesuaian adalah versi ke tiga.
7
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - II
SEJARAH PERKEMBANGAN MASYARAKAT SANGIHE
A. Arti nama sangihe
Sangihe adalah daerah kepulauan, yang dahulunya satu bagian dengan
kepulauan Talaud dan Kepulauan Sitaro dalam sistem pemerintahan kabupaten.
Saat ini Kepulauan Talaud dan Kepulauan Sitaro ( siau, taghulandang,biaro )
terpisah, dan membentuk pemerintahan kabupaten yuang baru.
Luas kepulauan sangihe adalah 2.263,95 km persegi (ensiklopedi
nasional indonesia). Terletak antara 125,10⁰ sampai 127,12⁰ bujur timur dan
2,3⁰ lintang sampai 5,2⁰ lintang utara. Secara Geografis, kepulauan sangihe
berbatasan, sebelah utara dengan perairan laut philliphina,sebelah selatan
dengan selat talise - perairan laut minahasa,sebelah barat dengan laut maluku,
sebelah timur dengan laut sulawesi. Sangihe merupakan daerah vulkanis
karena berada pada jalur pegunungan sirkum pasifik yang menghubungkan
jalur philiphina,ternate,tidore sulawesi utara dan sulawesi selatan. Hal ini
dibuktikan dengan adanya gunug api seperti gunung awu di pulau
sangihe,gunung karangetang di pulau siau,gunung ruang di pulau ruang
taghulandang,gunung api bawah laut mahangetang. Sangihe dikenal sebagai
sangir atau sanger oleh suku-suku lain di Sulawesi utara.
Kemungkinan besar penggunaan nama sangihe berhubungan dengan
kata sangi’ berarti sumangi, sasangi, sasangitang, makahunsangi, mahunsangi,
masangi, semua kata ini merujuk pada arti tangis dan sedih. (sangiress
nederlands woordenboek met nederlands sangiress register, Mr.K.G.F.Steller-
Ds.W.E.Aebersold). Kata Sangihe dapat dipilah dari dua kata yang diartikan
secara harafiah yaitu : Sangi dari kata sangiang yang berarti Putri Khayangan,
Ihe atau uhe berarti Emas. ( Toponimi,cerita rakyat dan data sejarah dari
kawasan perbatasan nusa utara). Kata sangi’ dapat juga ditemukan sebagai
nama tempat di pulau lapu-lapu kepulauan philliphiness,afrika dan india.(Encarta
2007). Pelaut Eropa menyebut daerah kepulauan Sangihe Talaud dengan nama
Sanguin. Pelaut-pelaut china dalam satu ekspedisi yang dipimpin laksaman
Ceng Ho menyebut daerah kepulauan sangihe dengan nama Shao San.
(Iverdixon Tinungki,Tabloid Zona Utara). Dalam bahasa Tountembouan, kata
Sangir berarti mengasah dengan menggunakan batu asah. Tempat untuk
mengasah benda tajam disebut pasangiran.
8
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Sampai saat ini belum ditemukan data secara pasti sejak kapan kata
sangihe mulai digunakan sebagai nama kepulauan yang didalamnya hidup
ethnis sangihe. Muhamad Yamin dalam buku Atlas Sejarah sudah menulis P.
Sangihe sebagai daerah kekuasaan kesultanan Ternate sampai tahun 1677
sebelum diserahkan ke VOC. Dalam catatan-catatan lain mengatakan bahwa
sangihe adalah Nusa Utara. Kepulauan Sangihe dan Talaud pernah menjadi
wilayah konsentrasi pasukan Majapahit. Kedatangan pasukan kerajaan
majapahit di utara Indonesia terutama di Kepl.Talaud antara tahun 1350
sampai 1365. Masa ini dihitung sejak Hayam Wuruk berkuasa di kerajaan
Majapahit dan mencapai kejayaan. Thn 1365 adalah tahun wafatnya Gajah
Mada.
B. Penduduk Mula - Mula
Manusia Sangihe pertama berdasarkan Legenda dan cerita lisan, terdiri
dari 4 jenis yaitu:
Manusia Apapuhang. Apapuhang adalah jenis manusia pertama
dalam legenda Sangihe yang pernah hidup di pulau Sangihe. Mereka
hidup dicabang pohon. Persebaran manusia apapuhang berada di Utaurano
antara Mangehesê dan Bowongkalaeng. Disebuah lembah yang sekarang
dikenal dengan nama balang apapuhang, kecamatan Tabukan Utara. Bentuk
fisik Apapuhang, tubuhnya pendek, kerdil. Suku Apapuhang memiliki
kerajaan di bawah bumi. Untuk dapat masuk di kerajaan Apapuhang
harus melewati pintu gerbang yang berada tepat di belakang air terjun
Apapuhang di Kampung Lenganeng (Wawancara dengan Bapak Radangkilat thn
1994) Semua benda di kerajaan Apapuhang terbuat dari emas.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Manusia Tampilê Batang,
Persebaran penduduk ini tidak diketahui.
Manusia Pêmpanggo (manusia jangkung
tetap. Persebaran penduduk ini tidak diketahui.
Manusia Angsuang. Angsuang adalah
tentang manusia ini menjadi Legenda di kampung
dikaki gunung Awu. Angsuang adalah tokoh dalam legenda Gunung Awu,
yang menceritakan proses terjadinya letusan gunung berapi.
C. Nenek moyang penduduk kepulauan
Dr. Peter Beltwood dari Australian
history bekerjasama dengan pihak permuseuman k
kebudayaan yang diwakili oleh Drs. I. Made Sutayasa pada bulan Juni sampai
Juli 1974 telah mengadakan penggalian
hasil penggalian ditemukan taring dan gading hewan
flakes, kerangka manusia purba (di goa Bowoleba Manalu)
Lokasi tempat hidup manusia Apapuhang dengan nama yang sama sajak masa lalu
yaitu Balang Apapuhang. Terletak 100 meter arah barat Kampung Lenganeng.
Ditempat ini terdapat 3 air terjun
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
, Hidup diakar pohon besar yang tumbang.
jangkung) Tidak memiliki tempat tinggal
raksasa dalam bahasa sangihe.Cerita
kampung-kampung yang berada
Sangihe
National University Departement of Prae
asama kantor pendidikan dan
dikepulauan sangihe dan talaud. Dari
purba,gerabah bermotif
Manalu).Temuan itu
. (foto. Alffian Walukow)
9
ada
Praeantor
ari
bermotif,
.
10
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
memberikan gambaran bahwa sudah ada kehidupan di kepulauan sangihe dan
talaud sejak kurun waktu 5000 tahun silam. (Toponimi,cerita rakyat dan data
sejarah dari kawasan perbatasan nusa utara)
Tim arkeologi nasional melalui balai arkeologi manado dalam laporan
penelitian arkeologi, “kajian permukiman dan mata pencaharian hidup manusia
masa lalu di kepulauan sangihe dan talaud sulawesi utara” mendapatkan
hasil bahwa sudah sejak lama ada kehidupan di kepulauan Sangihe dan
Talaud.
Robert C. Suggs dalam buku “ Island Civilization of Polynesia”, ( John
Rahasia “Penemuan Kembali Tagaroa “, 1975 ) mengungkap bahwa sejak ±
2000 – 1700 sebelum Masehi terjadi tekanan politis militer China dan Mongolia
dari bagian utara daratan Asia yang mendesak penduduk di lembah Mekhong
di daerah Yunnan (Viet Nam) untuk pindah. Penduduk yang tinggal di lembah
Mekhong menjalani tiga macam situasi yaitu : Mereka yang lemah dan tunduk,
dikuasai dan diasimilasikan dibawah peradaban,kebudayaan dan kekuasaan
China – Mongolia.Mereka yang lemah tetapi mengadakan
perlawanan,dihancurkan sampai keakar-akarnya, sehingga tidak
berbekas.Mereka yang tidak mau tunduk terpaksa meninggalkan daerah asalnya
dan merantau keluar. Ketepi laut China Selatan ke Philliphina, Nusantara,
melalui Mikronesia dan Melanesia sampai ke kepulauan Hawaii, pulau Paskah,
Selandia baru di Polynesia dan ada juga yang ke Madagaskar, Timur Afrika.
Periodisasi persebaran penduduk di China akibat masalah diatas dapat
dikelompokan sebagai berikut ;
1. Continental riverine migrations, yaitu penyebaran di daerah daratan Asia
disektar sungai mekhong
2. Coastal maritime migrations, yaitu penyebaran di daerah pesisir vietnam atau
tepi laut cina selatan.
3. Insular Maritim migration, yaitu penyebaran antar pulau dalam wilayah
kepulauan Taiwan, Jepang, Philliphines, Indonesia.
4. Insular oceanic maritime migrations, yaitu: penyebaran antar pulau sambil
mengarungi samudera Nusantara dan ke Madagaskar.
11
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Migrasi nenek moyang Nusantara terdiri dari dua tahapan yaitu :
Migrasi pertama tahun 1700 - 1500 sebelum Masehi dinamakan proto
melayu. Migrasi ini membawah kebudayaan Batu baru / neolitikhum yang
berpusat di Bascon hoabin Indo china. ( kebudayaan kapak lonjong dan
persegi ). Yang termasuk keturunan proto melayu adalah : suku toraja dan
dayak. Migrasi kedua tahun 700 - 300 Sebelum Masehi dinamakan Deutro
Melayu yang membawah kebudayaan logam. Kebudayaan ini berpusat di
Dongson. Yang termasuk keturunan deutro melayu adalah suku Jawa dan
Bugis.
Penduduk Sangihe dan Talaud termasuk ras Melayu Polynesia. Asal
perpindahan mereka dari Utara Mindanao dan lainnya berasal dari Ternate.
Suku bangsa Sangihe dan Talaud termasuk suku bangsa Polynesia dan
sebagian besar termasuk dalam suku Austronesia (Prof. J. C. van Erde, dalam
catatan tentang kebudayaan Sangihe-Talaud, Gideon Makamea,2008 ).
Penduduk Sangihe, tidak dapat ditentukan dengan pasti asalnya.
Diperkirakan mereka berasal dari Philliphina dan Sulawesi Utara hal ini
didasarkan dari bahasa yang ada di Sangihe dan Talaud, Philliphina dan
Minahasa memiliki banyak kesamaan. (Breuwer 1918 ; 771,dalam catatan
tentang kebudayaan Sangihe-Talaud, Gideon Makamea,2008 ) Penduduk
sangihe sendiri beranggapan bahwa nenek moyang mereka berasal dari
utara.
Untuk mengetahui siapa nenek moyang pendatang dan siapa nenek moyang
penduduk asli dapat dilihat melalui beberapa ras dunia yg akan
menunjukan keberadaan nenek moyang suku sangihe.Ras Kaukasoid terdiri
dari, Nordik (Eropa utara/ Jerman), Alpin (sebagian besar bangsa Eropa),
Mediterania (Timur tengah / Arab), Indic (India). Ras Mongoloid terdiri dari,
Asiatik Mongoloid (China,Jepang,Korea ), Malayan mongoloid (Melayu),
American Mongoloid (Indian). Ras Negroid terdiri dari, African Negroid (negro
Afrika), Negrito (penduduk Asli Philiphina).Ras khusus seperti ;
Australoid/penduduk asli Australia, Polynesia/bangsa Pasifik, Melanesia/Papua
pasifik, Micronesia / Pasifik, Ainu/penduduk asli Jepang, Dravida/penduduk asli
India, Bushman / Afrika selatan.
Bangsa Melayu terdiri dari 4 Suku bangsa yaitu : Malaysia, Indonesia,
Orang negrito, dan Papua (Encarta 2005). Dapatlah disimpulkan bahwa
penduduk Sangihe asli ditinjau dari etnik, dan legenda, bukanlah orang
Indonesia tetapi merupakan bagian dari suku bangsa negrito. Karakter fisik ras
Negrito adalah : mata tidak sipit,warna kulit gelap kehitaman, postur tubuh
tinggi rata-rata 130 cm.
12
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Sebelum terjadi migrasi besar-besaran dari daratan china, di Nusantara
sudah ada penduduk yaitu : Wedoid dan Negrito. Sisa-sisa suku wedoid
adalah : suku Sakai di siak, suku kubu di jambi,suku lubu di palembang. Sisa-sisa
suku negrito sudah punah. Ras Negroid termasuk juga sub ras africa negroid
(Negro Afrika) dan negrito penduduk asli Philliphina. Negrito adalah nama
yang diberikan oleh orang-orang Eropa untuk membedakannya dengan Negro
Afrika.
Karakter fisik penduduk sangihe ditinjau dari asalnya terdiri dari ;
1. Sama dengan penduduk dari persebaran migrasi china, penduduk asli Sangihe
termasuk dalam Ras Malayan Mongoloid atau keturunann proto melayu
jalur selatan.
2. Penduduk sangihe dipandang dari sisi Legenda berarti penduduk Sangihe
pertama berasal dari philipina. Penduduk asli philipina seperti suku
aeta,agta termasuk dalam ras khusus dunia yaitu Ras Negrito.
Berdasarkan cerita lisan yang sudah terwaris turun temurun bahwa nenek
moyang orang sangihe adalah Gumansalangi. Gumansalangi diberikan gelar
Kasili Medellu ( pangeran guntur ) dan Konda asa bergelar Sangiang Mengkila
atau Konda wulaeng yang berarti putri cahaya.
KEBUDAYAAN SANGIHE
PENINGGALAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan adalah komplikasi (
pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
serta lain-lain kenyataan dan kebiasaan
sebagai anggota masyarakat.
membedakan antara manusia dengan binatang.
semua unsur - unsur kebudayaan
Terhitung sejak mithology
dimulai sejak tahun 3000 sebelum masehi dan berakhir ses
(nusantara). Mithologi tagharoa adalah mithology
peninggalan saman purba dari saman batu
Lukisan di dinding gua maraheba, desa lesa.
Menggambarkan kehidupan berburu di saman pra sejarah
13
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - III
PRA SEJARAH
jalinan) dalam keseluruhan yang meliputi
moral, keagamaan, hukum, adat istiadat,
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia
Kebudayaan adalah salah satu ciri yang
Kebudayaan sangihe memiliki
yang ada.
tagharoa, maka kebudayaan Sangihe purba
sesudah saman logam
agharoa Pasifik. Sebagian
masih dapat dilihat di kepl, sangihe.
am udah
KEBUDAYAAN SANGIHE
Pecahan gerabah yang ditemukan di Talaud.
Persebaran gerabah ini ditemukan juga di bukit hantosa kec. Tabukan utara.
Gerabah dengan motif seperti ini termasuk type
Fosil binatang purba yang ditemukan di
14
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Raramenusa.
pintareng.
KEBUDAYAAN SANGIHE
.
Secara tipologi peninggalan bersejarah di sangihe, membuktikan bahwa
benda-benda tersebut memang berasal dari saman purba,
ini belum diketahui secara jelas tentang fungsi dan umur dari benda tersebut
Tipologi adalah suatu cara untuk menentukan umur benda budaya
berdasarkan bentuknya. Makin sederhana benda budaya makin tua umurnya )
Menhir adalah batu yang menyerupai tugu
tegak. Batu yang seperti menhir banyak
ditemukan di pulau Batunderang. Dua buah
dilapangan Manganitu. Kemungkinan lain
batu tersebut juga berfungsi seperti Yupa
pada agama Hindu mula-mula, juga sebagai
tempat mengikat korban binatang. Fungsi
lain menhir, sebagai tempat pemujaan roh
atau tanda peringatan orang yag sudah mati
15
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
meskipun sampai saat
tersebut.
tau Dolmen adalah batu yang menyerupai
meja, terdiri dari bagian atas batu
lebar dan bagian bawah ditopang oleh
tiang batu. Dolmen disangihe berfungsi
sebagai penutup kubur. Bukti
peninggalan seperti itu terdapat di,
pantai Pananualeng, Tamako, Kalinda,
Pananaru, Dagho,dan Lapango.
. (
KEBUDAYAAN SANGIHE
Kuang Batu. ( congklak )
Kuang adalah sejenis permainan
anak-anak yang menyerupai congklak.
Ditemukan satu dari dua buah
yang pernah ada di kampung Kauhis.
Gong dalam bahasa sangihe adalah
pengiring upacara keagamaan dari saman logam.
16
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Permainan gong datar philiphin
sama dengan bentuk gong
yang digunakan di kepulauan
sangihe.
.(foto. Esther Siagian.Gong.2006)
Gong peninggalan masa sundeng
hanya tertinggal satu buah di
kecamatan Manganitu
kuang
ong Nanaungan. Berfungsi sebagai musi
. musik
17
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - IV
KEHIDUPAN BERAGAMA DAN
KEPERCAYAAN SUKU SANGIHE
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap
keyakinan adanya kekuatan gaib,luar biasa atau supranatural yang berpengaruh
terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam.
Mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sakral adalah ciri khas kehidupan
beragama.(Busstanudin Agus, Agama dalam kehidupan manusia,50,2005).
Manusia beragama karena beberapa hal yaitu ; Tidak mampu mengatasai
bencana alam,tidak mampu melestarikan sumber daya dan keharmonisan alam,tidak
mampu mengatur tindakan manusia untuk dapat hidup damai satu sama lain
dalam masyarakat. (Evans-Pritchard, dalam Busstanudin Agus, Agama dalam
kehidupan manusia,50,2005)
Kepercayaan ialah sistem keyakinan yang dianut oleh seseorang atau
masyarakat dan menjadi dasar orientasi dan prilakunya. Unsur yang biasanya
terkandung dalam kepercayaan ialah : mithos,ketuhanan,manusia,alam
semesta,doa,mistisisme, magi dan tujuan kehidupan. ( D.J. Walandungo, Tesis,Islam
Tua Terpasung dan Merana,2002).
A. Masa Sundeng
Jauh sebelum terbentuknya kerajaan pertama, suku sangihe sudah
menganut sistem kepercayaan. Kepercayaan yang dianut suku sangihe dimasa
lalu tidak dapat dipastikan seperti apa. D. Brillman dalam bukunya Onze
zending velden De zending op de sangi-en Talaud – eilanden menjelaskan bahwa
sampai abad ke – 16 terdapat sistem kepercayaan yang disebut “ kepercayaan
mana “. Mana adalah kekuatan yang menonjol,yang menyimpang dari
kekuatan yang biasa, kekuatan ini hadir secara gaib di mana –mana (sakti).
Pendapat umum, mengatakan bahwa kepercayaan suku sangihe dikelompokan
sebagai kepercayaan animisme. Animisme adalah suatu kepercayaan mengenal
adanya roh-roh dan mahluk-mahluk halus yang mendiami seluruh alam
semesta. Selain pendapat diatas, suku sangihe dimasa lalu juga menganut
fetis atau pemujaan terhadap benda-benda alam maupun buatan manusia yang
diisi dengan kekuatan gaib, jika benar fetis, berarti agama sangihe purba juga
18
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
beraliran dinamisme. (Dr. Harun Hadiwijono, Religi suku murba di
Indonesia,2006)
Beberapa pendapat tentang kepercayaan sangihe dapat dilihat melalui
aktifitas keagamaan masa lalu. Masyarakat sangihe mengenal beberapa ritual
keagamaan seperti ritual měsundeng. Sundeng bukan hanya sekedar ritual
keagamaan tetapi sebagai sebuah komunitas yang didalamnya terdapat suatu
kehidupan budaya dan sistem kemasyarakatan yang memiliki hubungan
dengan sebuah kekuatan yang dianggap lebih berkuasa dari komunitas
tersebut.
Komunitas ini mengatur adanya pemimpin agama yang di sebut Ampuang.
Ampuang bertindak sebagai orang yang berkedudukan tertinggi dalam
komunitasnya. Dalam menjalankan aktifitasnya ampuang dibantu oleh para
tatanging dan para bihing. Penetapan kedudukan dalam komunitas sundeng
dilakukan melalui proses pemuridan atau bawihingang.
Kegiatan utama ritual měsundeng adalah menalě atau mempersembahkan
sesaji. Pada awalnya pemberian sesajen dilakukan dalam bentuk pengorbanan
yang mengorbankan manusia kepada penguasa alam. Ritual sundeng tidak
dilaksanakan ditiap kampung tetapi dilaksanakan dalam suatu pusat
penyembahan yang disebut penanaruang.Terdapat tempat pelaksanaan ritual
sundeng yaitu di manganitu, pananaru,pulau mahumu dan beberapa tempat
lain. Pusat penyembahan terbesar terdapat di kampung Pananaru kecamatan
Tamako. Pelaksanaan ritual sundeng dihadiri oleh perutusan komunitas
sundeng terkecil dari tiap kampung. Tidak semua komunitas sundeng
memiliki ampuang ataupun tatanging, kebanyakan dari komunitas kecil hanya
memiliki seorang bihing.
Secara garis besar, tata cara pelaksanaan kegiatan menalě dimulai dari
berkumpulnya para anggota komunitas sundeng melalui perutusannya. Duduk
melingkar berdasarkan kedudukan dan peran dalam kegiatan penyembahan.
Mempersiapkan seseorang yang akan dikorbankan. Meminta petunjuk dari
penguasa alam. Setelah direstui ditikamlah satu orang yang sudah dipersiapkan
dengan alat yang bernama kenang. Diyakini jiwa sang korban menuju tempat
lain. Berpindahnya jiwa korban diantar melalui prosesi budaya seperti tari
lide’, bunyi-bunyian alat musik oli’ disertai tagonggong dan nanaungang.
Setelah semua kegiatan selesai, semua peserta makan bersama.
19
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Komunitas sundeng meyakini adanya kekuatan yang melebihi kekuatan
mereka, untuk itu mereka mempersembahkan korban sebagai bentuk hubungan
antara manusia dan sang penguasa alam. Kekuatan yang melebihi kekuatan
manusia dalam komunitas sundeng berupa kekuatan tidak terlihat atau roh.
Kekuatan tersebut terdiri dari tiga unsur roh yang dibedakan dari orang-orang
yang menyembahnya yaitu Ghenggonalangi, Aditinggi dan Mawendo.
Ghenggonalangi adalah kekuatan yang berkedudukan setinggi langit yang
menguasai seluruh bumi. Aditinggi adalah kekuatan yang berkedudukan
didaratan tertinggi, yang disembah oleh orang - orang di perbukitan. Mawendo
adalah kekuatan yang berkedudukan dilaut yang disembah oleh orang-orang
dilaut dan dipesisir pantai.
Pada saat ritual sundeng masih dijalankan dalam sebuah komunitas
sundeng maka muncullah sebuah ritual yang disebut mědaroro. Inti dari ritual
ini adalah mencari dan menemukan petunjuk dari roh leluhur yang sudah mati.
Ritual inilah yang ditafsir oleh D.Brillman dalam buku (Kabar baik dari bibir
pasifik,terjemahan) sebagai agama orang sangihe. Ritual medaroro masih
dilaksanakan di pananaru sampai tahun 1976 (wawancara dengan tua
kampung pananaru,thn 2007), di Manganitu sampai tahun 1960-an (wawancara
dengan bpk. Garing,bapak Ulis).
Konsep dan tata cara pelaksanaan ritual medaroro masih diadaptasi dari
ritual sundeng termasuk lokasinya. Dikemudian hari lokasi pelaksanaan
medaroro sudah dilaksanakan di kampung-kampung dalam komunitas kecil
yang dulunya adalah komunitas kecil sundeng. Yang membedakan antara
sundeng dengan medaroro adalah persembahan korban tidak lagi
menggunakan manusia tetapi menggunakan babi. (wawancara dengan tua
kampung, Nahepese, Bengka, Karatung, Kauhis, 2001 – 2007). Digantinnya
korban manusia dengan babi, dimulai pada saat masuknya bangsa eropa di
kepulauan sangihe. Pada akhirnya persembahan korban dalam ritual medaroro
diganti dengan persembahan sesajen nasi kuning dengan lauknya.(wawancara
dengan bpk. G. Makamea,2007). Makna kekuatan yang disembah dalam ritual
medaroro tidak lagi kepada Ghenggonalangi,aditinggi dan mawendo tetapi
kepada Himukudě. Selain ritual sundeng dan medaroro masih ada ritual lain
yang pernah dilakukan masyarakat sangihe dimasa lalu seperti ritual
menahulending banua,menondo sakaeng,mendangeng sake, melanise tembonang,
menaka batu, dan lain-lain.
20
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Ritual menaka batu (menutup kubur dengan batu) adalah ritual purba
yang berhubungan dengan peristiwa kematian,ritual ini dilakukan beberapa saat
setelah penguburan jenasah. Berdasarkan temuan, batu penutup kubur ini diambil
dari tempat yang sangat jauh dari tempat penguburan karena lokasi pekuburan tua
ini berada di atas bukit.Dilihat dari bentuk bangunan, dapat diidentifikasi bahwa
kuburan yang menggunakan tutup batu, dibuat pada saman Batu besar.
Tutup batu kubur ini menyerupai dolmen.Ukuran batu mulai dari 50 x 50 cm
sampai 100 x 250 cm dengan ketebalan 5 – 25 cm. Berat batu berfariasi dari 50
kg sampai 700 kg. Pada bagian bawah terdapat 4 sampai 5 tiang batu setinggi 40
cm dari atas tanah.Ritual menaka batu menunjukan status sosial masyarakat.
Kuburan yang memiliki penutup batu paling besar berasal dari kalangan atas
sedangkan kuburan yang memiliki penutup batu kecil dari kalangan
bawah.Berdasarkan penuturan dari tua-tua kampung pananaru dan lapango,
untuk mengangkat batu ukuran besar memerlukan tenaga sebanyak 50 sampai
100 orang yang dilakukan secara estafet.Diatas batu, duduk seorang pemimpin
yang memberikan perintah.Setibanya di pekuburan ada seorang tua-tua adat yang
sedang memainkan musik Tagonggong, pada saat batu penutup kubur mulai
diangkat keatas bukit, sering terjadi perkelahian. Setelah prosesi menaka batu
selesai, diadakanlah pesta dalam bentuk meberi makan seluruh pekerja. Situs
kuburan tua sangihe yang memiliki konstruksi yang sama, menggunakan
penutup batu besar terdapat di pantai
pananualeng,pananaru,pangalemang,bawuniang lapango.
Konsepsi masa lalu tentang keragaman budaya terbawa jauh sehingga
menemui suatu perubahan dengan munculnya upacara Tulude. Upacara ini
dilaksanakan setahun sekali sabagai upaya mensyukuri keberadaan ditahun yang
sudah dilalui dan menolak bala di tahun yang baru. Pada upacara ini
ditampilkan semua bentuk hasil kebudayaan sangihe. Tulude merupakan
upacara adat terbesar.
Filosofi utama dari tulude terletak pada tamo, dimana seluruh lapisan
masyarakat dapat hadir tanpa harus diundang. Pada kegiatan ini tampak nilai
kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat, antara masyarakat yang satu
dengan lainnya dengan tidak membedakan status dan kedudukannya dalam
kehidupan bermasyarakat.
21
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
B. Masuk dan berkembangnya agama luar di kepulauan sangihe.
a. Agama Islam
Islam merupakan agama luar pertama yang masuk dan berkembang
dikepulauan sangihe. Sebelum agama Islam berkembang lebih luas
disangihe, sudah lahir sebuah komunitas kehidupan beragama menyerupai
islam yang disebut Islam tua atau kaum tua. Aktifitas keagamaan
komunitas ini masih mempercayai dan mengikuti kebiasaan penganut
islam Alquran, seperti melakukan puasa,melakukan sholat
berjamaah,merayakan beberapa hari keagamaan Islam berdasarkan islam
quran. Komunitas keagamaan ini tidak memiliki kitab suci sebagaimana
agama Islam Al-quran. Mereka meyakini bahwa ajaran islam tua
disebarkan pertama kali oleh seseorang yg kemudian disebut sebagai
Mawu Masade. (penjelasan beberapa umat islam tua 2003). Salah satu
ajaran leluhur yang mereka anggap patut di jaga adalah : umat tidak
perlu sekolah tinggi, karena kalau sekolah tinggi dapat mengotori tingkat
keimanan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa (wawancara dengan
bpk. Manto Kirimang,2007)
Masade adalah seorang anak berumur 7 tahun yang ditemukan di
kerajaan Tabukan pada masa pemerintahan Raja Dalero. Pada saat itu
terjadi perang antara kerajaan tabukan dan kerajaan islam Lumaugě.
Penyebab perang bukan masalah agama tetapi dendam kepada sultan
sibori dari ternate yang membawa lari Maimuna putri raja Dalero. (Sultan
sibori sering berkunjung ke kerajaan Lumauge). Pada saat terjadi
perang,masade bersembunyi didalam perahu yang tertutup ditanah. Dia
ditemukan dan dibesarkan oleh Manakabe. Masade mempelajari agama
Islam di Ternate dan Mindanao lalu kemudian menyebarkannya ke sangihe.
Masade meninggal dan dimakamkan di Tubis,Philliphina, beberapa
waktu setelah perjalanannya ke Ternate,Mongondow,dan Mekah.
Ajaran Masade diteruskan oleh muridnya yang bernama Penanging.
Penanging melakukan pemuridan kepada tiga orang yaitu Makung,
Hadung dan Biangkati. Ajaran tiga murid penanging inilah yang
melahirkan tiga aliran ajaran dalam Islam Tua. Tempat ibadah komunitas
keagamaan ini dinamakan mesjid, alat yang digunakan untuk
memanggil orang beribadah menggunakan lonceng. Shalat berjamaah
dilaksanakan tiap hari Jumat. Ajaran utama mereka berasal dari imam.
Ada kemungkinan lahirnya komunitas keagamaan islam tua merupakan
kegagalan dari dakwah islam Syi,ah.
22
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Disaat agama islam tua sedang mengalami tekanan dari berbagai pihak
terutama tekanan dari negara sendiri, muncul seorang penyelamat yaitu
Pendeta Don Javirius Walandungo. Melalui sebuah tesis dengan judul “
Islam Tua Terpasung dan merana” telah membuka mata pemerintah
untuk menyelamatkan agama ini dari tekanan saudara-saudaranya.
Sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat menguatkan tetang kapan
masuknya ajaran islam mula-mula di kepulauan sangihe. Secara umum,
ajaran islam masuk ke Indonesia oleh beberapa ahli berasal dari India,
Coromandel, Arabia, Mesir, China dan Persia. Diperkirakan ajaran yang
masuk ke sangihe melalui philliphina dan ternate.
Ajaran Islam masuk dan berkembang disangihe dilihat dari dua
kemungkinan.
Pertama, masuk melalui Philliphina awal tahun 1400 oleh pedagang dan
pelaut china yang melalui jalur pelayaran laut. Persebaran islam ini
dilakukan melalui pelayaran yang dilakukan juga oleh pelaut china,
Cheng Ho dalam kunjungannya di pulau Sulu. Masuknya ajaran islam dari
philliphina juga dipengaruhi oleh hubungan dagang yang dilakukan oleh
muslim cina maupun muslim moro,mindanao.
Kedua, masuknya ajaran islam dari Ternate diperkirakan pada abad ke
14, karena pada saat itu islam sudah tersebar diseluruh ternate. Sultan
ternate yang benar – benar sudah memeluk agama islam adalah Sultan
Zainal Abidin (memerintah sebagai sultan thn 1486-1500),Zainal Abidin
belajar islam dari Sunan Giri. Pada masa pemerintahan sultan Baabullah
anak dari Sultan Hairun (1570-1583) kesultanan ternate mencapai
kejayaan. Wilayah kekuasaannya sampai ke Philliphina. Orang pertama
yang menyebarkan agama islam AlQuran disangihe adalah Imam
Penanging yang kemudian dianggap oleh penganut Islam tua sebagai
murid dari Masade ( wawancara dengan bapak Gabriel, kepala MI
Petta )
Menurut tradisi lisan sangihe, agama islam pertama kali diperkenalkan
di Tabukan oleh seorang arab bernama Syarief Maulana Moe’min pada
abad ke 15 dan mendapatkan pengaruh pertama terhadap raja kerajaan
Lumauge. ( Suwondo,1978 dalam D.J.Walandungo, Islam tua terpasung
dan merana ). Kerajaan lumauge berpusat di sebuah bukit di belakang
moronge. Kerajaan ini adalah satu-satunya kerajaan islam di sangihe yang
merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan Tabukan.
Pada abad ke 19 datanglah seorang imam dari pontianak yang
mengajarkan ajaran Islam. Imam tersebut dijuluki “Imam Pontiana”.
23
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Sesudah imam “pontiana” dipulangkan oleh pemerintah Kerajaan Tabukan
ke pontianak, muncul lagi seorang pengajar agama islam dari tabukan
bernama Walanda yang sebelumnya pernah berguru pada Tamieng.
Walanda memperdalam ilmu Islam di mongondow,setelah kembali ke
sangihe ia membuka pengajian di tabukan. Pertengahan abad ke 19, raja
Kumuku (Hendrik David Paparang) mempelajari agama Islam di Ternate.
Sekembalinya di Sangihe, dia membawa seorang anak bernama Moedin
Baud. (catatan laporan kunjungan Gubernur jendral di kerajaan Tabukan,
1927)
Pada masa pemerintahan Presidentsi raja Cornelis Siri Darea tahun
1886, agama islam di Kerajan Tabukan mendapat tekanan. Kapiten laut
Hadiman Makaminan dan Maloehenggehe Paparang dihukum karena
berguru ajaran islam pada Husein (orang Gorontalo). Orang-orang yang
masih memeluk agama Islam di Tabukan diungsikan ke Tahuna dan
membentuk komunitas baru kampung islam Tidore. Pengungsian dipimpin
oleh Abdoel Latief. Di bowondego/lenganeng mereka menangis sambil
mengucapkan doa Ya Allah Tuhan yang rahman, PadaMulah tempat
berlindung, Sertailah berkat, teguhkanlah iman, Peliharalah hambamu
diperasingan. Diantara para pengungsi terdapatlah seorang yang bijak
bernama Ontameng Kakomba yang kemudian menjadi guru agama Islam
di Tahuna.
Di masa pemerintahan raja Tahuan, Dumalang, islam mendapat tekanan.
15 orang penganjur Islam diasingkan diluar Sulawesi.Atas pertolongan
Controleur Hoeke beberapa tahun kemudian dibangunlah sebuah mesjid di
Sawang. Dimasa pemerintahan Raja D. Sarapil 1898 umat islam dalam
pembuangan Tahuna, diijinkan pulang ke Tabukan dan membangun mesjid
di Moronge dan Peta.
Tahun 1915 datanglah seorang Ambon bernama Marasa Besi
mengajarkan ilmu sihir bertopeng agama Islam. Tahun 1919 Sarikat Islam
terbentuk di Tabukan, organisasi ini bubar pada tahun 1921. Karena
kesalah pahaman, pemimpin Sarikat Islam J.G. Janis dihukum, sampai
meninggal dan dikuburkan di Surabaya. Pada masa pemerintahan raja
W.A. Sarapil tahun 1925, kehidupan beragama di kerajaan tabukan
menjadi baik. (disarikan oleh Bombaran Makaminan dalam catatan
laporan kunjungan Gubernur jendral di kerajaan Tabukan, 1927 )
Satu-satunya kerajaan Islam di Sangihe adalah Kerajaan Lumauge yang
berpusat di Moronge, dibawah kekuasaan Kerajaan Tabukan. Kerajaan lain
disangihe yang mendapat sentuhan islam adalah kerajaan Kendahe.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Raja kerajaan kendahe pertama adalah anak Sultan A
philiphina, memerintah
islam adalah raja Gadma.
pemerintah spanyol di manila b
islam dan memeluk agama kristen” ( Meersm
D.J.Walandungo, Islam tua terpasung dan merana
C. Agama Kristen.
Misi Khatolik Portugis pertama yang tiba di Maluku adalah beberapa rahib
Franciscan yang mendarat
pesat sampai tahun 1570, di
tidore, Banggai,Manado dan Sangihe.
Misionaris Jesuit, Franciscus Xaverius
penginjilan. Sesudah tahun 1570 Misi Roma khatolik mulai mengalami
kemunduran akibat dari, dibunuhnya Sultan Hairun oleh Portugis.
Tahun 1563, pater Diego
raja Siau Possuma. Thn. 1566 raja Siau yang baru kembali dari
pengungsian ditemani oleh misionaris dari Ternate Pater Mascarenhas. Akhir
bulan september 1568 raja Kolongan
menerimanya menjadi Kristen.
di pulau sangihe, mengajar selanjutnya membaptis dan menikahkan beberapa
bangsawan di kerajaan kolongan
Khatolik di Siau.
Mesjid Peta akhir tahun 1800
sampai awal 1900
(foto dari buku nusa utara
dalam geopolitik,Manenda
Sarapil)
Tiang utama,bagian tengah
mesjid-mesjid yang berada di
daerah tabukan utara terbuat
dari pohon “ kapeta ” sejenis
jambu air
( Wawancara dengan. Bpk.
Luqman Makapuas,2007 ).
24
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
endahe Achmad dari
thn 1600 – 1640. Raja Tabukan yang beragama
”Utusan raja Gadma menegaskan kepada
bahwa mereka rela meninggalkan agama
Meersman 1967 dalam
merana).
ndarat di Ternate tahun 1522,kemudian berkembang
ambon lease,bacan,halmahera – morotai,ternate
Hal ini terlaksana atas usaha dari
sejak tahun 1546 selama 15 bulan
de Magelhaes membaptis “raja Manado” dan
. meminta rohaniawan di siau untuk
Tgl. 5 Oktober 1568, Pater Mascarenhas tiba
kolongan. Tahun 1563 adalah awal sentuhan
ahwa an kembang
ernatedari
ama ater
25
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Perkembangan protestan di pulau sangihe dapat di periodisasikan
berdasarkan buku Wilayah-wilayah zending kita, Zending dikepulauan sangi
dan talaud, sebagai berikut :
1. Masa awal protestan (masa VOC)
Penyebaran protestant calvinis dimulai sejak Spanyol menarik
diri dari Sangihe, setelah VOC merebut Tahuna pada tahun 1666.
Pendeta mula-mula adalah Ds. Pregrinus (1677) dan Ds. Cornelis de
Leeuw, sebagai pendeta pertama yang berkhotbah dalam bahasa
Sangihe (1680-1689).
Penyebaran agama kristen protestan mula-mula dilakukan oleh
para pendeta pegawai VOC. Tahun 1675 Pendeta J. Montanus
mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun
1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai
tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia.
Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi
karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja
ringkas,81,1966)
Tahun 1674-1675 adalah masa awal sentuhan protestan di pulau
sangihe. Pada masa itu Pendeta Franciscus Dionysius dan Pendeta
Ishacus Huysman berkunjung ke pulau sangihe,kemudian sakit lalu
meninggal dan dikuburkan ditepi pantai, jalan menuju ke angges. Thn.
1676 sangihe dikunjungi oleh Pendeta. J.Montanus dan Pendeta
Peregrinus. Tahun 1770 – 1853 Pendeta Josep Kam Bertugas di Maluku
dan dijuluki Rasul Maluku, pendeta ini sering melakukan kunjungan
ke sangihe. Pendeta terakhir yang berkunjung ke pulau sangihe
semasa VOC adalah Pendeta J.R. Adams pada tahun 1789. 31
Desember 1799 VOC dibubarkan, sejak bubarnya VOC tidak ada lagi
pelayanan rohani
2. Masa NZG (Nederlandsch Zendeling Genootschap ) Perserikatan
Pekabaran Injil Belanda
Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta
Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke
Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen
tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG
di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2
26
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di
Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka
meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka
mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan
turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J.
Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan
yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann GottliebSchwars.
Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari
Minahasa ke sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der
Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa. Atas kujungan
tersebut dilaporkanlah keadaan jemaat kristen sangihe yang terlantar
kepada NZG. Oleh menteri Jajahan, diberikan jawaban bahwa akan
diutus empat orang Zendeling-werklieden atau zendeling tukang. S.D.
van der Velde van Capellen kembali lagi ke tempat tugas di minahasa
sampai akhir hidup dan dikuburkan di lansot tareran tahun 1856.
3. Masa Zendeling – werklieden ( zendeling tukang atau utusan
tukangdalam perhimpunan “Pendeta tukang)
Komisi Zendeling tukang memulai pekerjaannya di Amsterdam tahun
1851 dan mengutus pekerja injil di Indonesia. Komisi telah mengutus
sembilan orang ke pulau sangihe dan talaud untuk melakukan
penginjilan. Usaha penginjilan ini dilakukan atas beberapa latar
belakang diantaranya :
- Kurang lebih 200 tahun pemeliharaan injil di sangihe terlantar.
- Laporan Pdt. S.D. van Der Velde van Capellen tahun 1855 tentang
kemerosotan iman jemaat di Sangihe.
Karena kekurangan tenaga di Belanda, Komisi zendeling
tukang mengambil beberapa utusan dari Jerman. Mereka yang diutus
adalah : Carl W.L.M Schroder, E.T.Steller, F. Kelling dan A.Grohe.
Kelling dan Grohe ke pulau Siau mereka tiba di Taghulandang 15 Juli
1875. Steller dan Schroder tiba di Manganitu 25 Juni 1857. Pengutusan
zendeling tukang berakhir tahun 1858.
27
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
4. Masa Komite Sangihe dan Talaud (didirikan tahun 1887)
Pada masa ini tanggungjawab pemeliharaan iman di pulau
sangihe dan talaud ditangani oleh Komite Sangihe dan Talaud.
Komite ini didirikan di Belanda atas kerja sama dengan beberapa
badan penginjilan. Komite hanya bertanggung jawab membiayai
perjalanan utusan injil sampai di Batavia, sesudah itu diserahkan
kepada pemerintah Hindia Belanda melalui badan penginjilan yang
ada di Manado. Utusan injil yang datang di sangihe dan talaud
diambil dari beberapa badan penginjilan.
Utusan injil baru tiba di Sangihe tahun 1888. Mereka yang
diutus adalah : M. Kelling,W.T.Vonk, J.C.G.Ottow. Tahun 1891, siau
menerima pekerja injil baru yaitu : A.J. Swanborn,pada saat yang
sama G.F. Schroder pindah dari talaud di pulau sangihe, dan
Mr.K.G.F. Steller tiba di Manganitu 31 mei 1899. Pada tanggal 1
Juli 1904 pelayanan injil di serahkan lagi pada komite untuk
pemeliharaan kebutuhan rohani jemaat kristen protestan pribumi.
Menjelang pertengahan tahun 1900, gereja kristen di sangihe
menyatakan berdiri sendiri, tidak terikat lagi oleh gereja negara.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Bangunan peninggalan
28
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
ggalan sejarah penginjilan di sangihe.
Gereja Enemawira
Gereja Manganitu,
KEBUDAYAAN SANGIHE
Rumah pendeta di Taghulandang,
29
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Gereja Talengen
KEBUDAYAAN SANGIHE
Rumah pendeta di Manganitu,umur 150
Umur bangunan,
30
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
tahun, rusak berat.
Rumah pendeta di Tamako,
± 100 tahun,rusak berat
31
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - V
SENI TARI DAN MUSIK SANGIHE
Penciptaan tari lahir sebagai bagian dari keperluan ritual atau upacara adat
dan kegiatan sosio – kultural. Dalam tata kehidupan seperti itu rasa dan semangat
kebersamaan menjadi titik sentral. ( I Wayan Dibia,dkk. Tari Komunal,2006)
Tari berkembang atas kerja sama dan rangsangan yang didapat dari
musik,seni rupa,sastera dan drama. Penciptaan tari tradisi sudah ada seiring dengan
lajunya sejarah. Masing-masing khazana tari tersebut mengalami perubahan dan
perkembangan. Satu sama lain dapat terjadi saling silang budaya atau saling
mempengaruhi.( Sumaryono Endo Suanda, Tari Tontonan, 2006)
Di sangihe, tarian merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, apakah
itu untuk keperluan ritual ataupun pertunjukan. Dalam mengekspresikan tari, musik
menjadi bagian didalamnya. Setiap bentuk tari mengalami perubahan dari waktu
ke waktu berdasarkan perkembangannya.
Terdapat beberapa tari-tarian asli sangihe yang masih ada dan sedang
dikembangkan yaitu, tari gunde,tari sese madunde,tari alabadiri,tari dangsang
sahabe,tari bengko,tari salo,tari upase,tari tambor dan tarian ampa wayer.
Substansi (isi) dasar tari, adalah gerak tubuh, karena itu tari adalah
perwujudan ekspresi secara personal. Tari lahir dari suatu sistim kebudayaan yang
berlaku didaerah masing-masing merupakan bentuk komunikasi antar manusia yang
lahir dari tatanan kehidupan. ( I wayan dibia,cs.Tari komunal,2006 ).
Tari dipertunjukan pada berbagai peristiwa, seperti yang berkaitan dengan
upacara (ritual) dan pesta untuk merayakan kejadian-kejadian penting.Tari telah
berperan penting dalam sistim sosial sejak zaman pra sejarah (Sumaryono, Endo
Suanda,Tari tontonan, 2006)
A. MUSIK DAN TARI LIDE.
Penelitian tentang musik ini telah dilakukan oleh banyak ahli dan
pemerhati lokal dan beberapa pakar etnomusikolog dari Indonesia maupun
luar negeri. Mengolį adalah suatu kegiatan memainkan alat musik yang
dinamakan musik lide. Latar belakang permainan musik ini adalah sebagai
KEBUDAYAAN SANGIHE
media penghubung manusia dan sang penguasa alam
memainkan musik ,terdapat satu orang perempuan yang menyanyi dengan
isi syair pantun (dalam bahasa sangihe disebut
Musik lide terdiri dari sekumpulan alat musik tradisional Sangihe yang
dimainkan secara bersama oleh penganut kepercayaan sundeng.
sudah ada bersamaan waktunya
kepulauan sangihe tahun 1500
ritual mêsundeng.
1. Jenis alat musik lide
Musik lide terdiri dari beberapa jenis alat
melodis memiliki unsur
a. Alat musik melodis atau alat yang mengantar melodi pada
lagu.
· Arababu dan alat penggesek.
· Bansi, alat musi
b. Alat musik ritmik.
· Sasesaheng
· Salude
· Oli
32
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
alam. Disamping
papantung, medenden
Musik ini
dengan kerajaan mula-mula
– an. Kesenian ini lahir sabagai bagian dari
musik yang pada musik
5 buah nada yaitu : do,re,mi,fa,sol.
, musik melodis
saheng
den).
a di
33
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
2. Jenis lagu pada musik lide.
Musik lide terdiri dari 8 jenis irama lagu purba. Jenis irama lagu
purba yang masih ada dari antara 8 lagu purba adalah :
1. Lagung lide
2. Lagung laogho u lendu
3. Lagung elehu ake
4. Lagung sangi u wuala
Lagu yang sudah punah diantaranya adalah Ondolu Wango.
Hal ini disampaikan oleh nara sumber, pemain dan pembuat alat
dikampung Manumpitaeng bernama Umbure Kalenggihang. Menurut
bapak Malomboris (pemerhati music lide dari kampung
Manumpitaeng) lagu yg sudah dinyatakan punah masih dapat
dimainkan oleh Bapak Umbure tetapi belum saatnya diajarkan. Hal
ini mungkin berhubungan dengan sitem pewarisan pada Agama
Sundeng. Menurut bapak Malomboris, pemerhati budaya lide dari
Manumpitaeng mengatakan bahwa selain lagu, terdapat juga tari pada
ritual sundeng yang sudah dinyatakan punah, tari tersebut bernama
Tari lide.
Jenis irama lagu, pengembangan dari lagu purba diantaranya adalah :
1. Lagung bowong buas
2. Lagung balang
3. Lagung sahola
Setiap jenis lagu memiliki latar belakang penciptaan yang
berbeda. Yang unik dari irama musik lide yaitu : irama musik lide
sudah diturunkan secara turun-temurun tanpa perubahan secara
signifikan. Perbedaan musik lide hanya terdapat pada tempat dimana
musikc itu dikembangkan. Irama lagu musik lide di daerah sekitar
Pulau Mahumu hanya menggunakan 3 irama lagu sementara
didaerah lain menggunakan 4 irama lagu. Musik lide merupakan
paduan dari beberapa jenis alat musik seperti : Oli, Bansi, Arababu,
salude dan Sasesaheng yang dimainkan secara bersamaan menjadi
sebuah ansambel. Permainan music ini sering juga di padukan
dengan vocal / suara manusia. Syair lagu yang dinyanyikan
kebanyakan bertema permintaan yang memiluhkan, hasil dari
penderitaan yang berkepanjangan. Pada perkembangan salanjutnya
Musik lide mulai dipadukan dengan gong atau dalam bahasa
34
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
sangihe disebut Nanaungang. Kegunaan gong adalah pengendali
tempo lagu.
3. Filosofi dan pemaknaan lagu purba pada music lide.
Dari keempat jenis lagu yang ada, pada dasarnya mempunyai
nuansa kepedihan. Lagu lide merupakan lagu inti atau lagu pembuka
yang dapat menyertai penyembahan agar cepat sampai kepada sang
penguasa alam dalam bentuk permohonan.Lagu Elehu ake :
mengetengahkan tentang bentuk permintaan dan permohonan
seperti air yang mengalir.Lagu Sangi U Wuala : arti sangi u wuala
adalah Tangisan Buaya. Dimasa lalu masyarakat sangihe meyakini
adanya Upung (leluhur) Manusia dan Upung (leluhur) Buaya. Upung
buaya berjalan dengan dua kaki menggunakan ikat kepala merah.
Upung buaya ini memiliki kekuatan yang sangat sakti sehingga
apa yang dia minta harus diberikan. Jika permintaannya tidak
dipenuhi maka akan ada korban yang ditelan. Lagu sangi u wuala
berkisah tentang ancaman terhadap kehidupan manusia yang
digambarkan sebagai rupa Buaya. Ancaman tersebut telah
membawah umat pada kesedihan yang berkepanjangan.Lagu Laogho
u lendu,lagu lendu diambil dari nama salah satu jenis burung yang
hidup di sangihe. Burung ini adalah satu-satunya burung dalam
kehidupan budaya sangihe yang dianggap sebagai perpanjangan tugas
penguasa alam. Tugas burung lendu yang paling utama adalah
34ating tanda tentang kematian kerabat terdekat. Selain lendu ada
juga kaliyaow yang meberi tanda akan kehadiran kerabat dekat dari
tempat jauh.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Dukun-dukun Wanita
musik lide di Manganitu
adat. Foto dari buku “ Kabar baik dari bibir pasifik” D.Brillman
4. Salah satu bentuk lagu pada m
Komposisi Lagung Lide
35
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
berpakaian koffo dilatarbelakangi pemain
Manganitu. Awal tahun 1900. Dimainkan dalam ritual
musik lide
KEBUDAYAAN SANGIHE
5. Tarian yang diiringi musik lide.
Tari lide sebagai bagian dari ritual
tarian purba yang sudah pun
menalê, (menalê adalah memberi makan, wawancara : G.
Makamea,2008) dilakukan untuk
yang dikorbankan kepada
Kelompok pemain musik lide kreasi Tabukan.Awal tahun 1900.
Pada kelompok ini sudah menggunakan 6 buah gong, dimainkan
khsusus oleh wanita,dalam
Foto dari buku “Nusa u
36
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
ebagai mêsundeng. Merupakan
punah. Tari ini dilakukan dalam tahapan
) mengantar roh perempuan muda
sang pencipta).
pementasan.
utara dalam geopolitik”,oleh Manenda Sarapil
37
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Pola lantai tari lide
Tari lide ditarikan oleh perempuan, penari mengelilingi
korban dalam kelompok tari, dan menari sesuai gerakan masingmasing
yang imajinatif dan spontan. Gerakan dasar tari, tangan di
goyang dan kaki disentak-sentakan ketanah sambil mengelilingi
korban. Dasar dari tari lide adalah tari tunggal yang ditarikan
bersama.Dilihat dari unsur tari maka tarian ini dikelompokan
sebagai tari komunal. Tari komunal adalah suatu peristiwa
pertunjukan tari yang melibatkan masyarakat besar. Tari komunal
mengandung prinsip semangat kebersamaan,rasa persaudaraan atau
solidaritas terhadap kepentingan bersama.
Lambat laun konsep kebudayaan semakin mengalami
perubahan. Setelah masuknya agama Islam dan agama Kristen di
kepl. Sangihe maka pengorbanan manusia diganti dengan
binantang berupa babi. Seekor babi dengan persyaratan yaitu babi
tambun besar berwarna hitam keseluruhan dari unjung kepala
sampai ujung kuku.Pengorbanan binantang kemudian diganti lagi
dengan Sajen berupa ketupat jenis bebatung kambing, salah satu
jenis ketupat dari 16 jenis ketupat sangihe.(wawancara :
Makamea 2006) Ketupat kemudian diganti lagi dengan nasi kuning
yang disajikan diatas piring besar yang disebut dulang. Populasi
pelaku musik lide asli dan medenden tinggal satu orang.
Korban
persembahan
KEBUDAYAAN SANGIHE
B. KESENIAN MĔBAWALASĔ
Mĕtaggongong identik dengan m
Alat musik yang digunakan dalam permainan musik “m
gendang.
Dimasa lalu, permainan musik tagonggong dijadikan sebagai
pengiring kegiatan “me’sambo”
upacara adat. Pengaruh kebudayaan import dan saling berpengaruhnya
budaya sendiri menjadi bagian dari perjalanan panjang budaya mebawalase
kantari.
Dari cerita lisan dan
memberikan gambaran kemahiran leluhur
dan berpantun. Berpantun adalah bagian u
yaitu mengucapkan syair –
arti dan harus dibalas sesuai permintaan syair sebelumnya.
dilakukan secara berbalas-balasan antar dua orang atau dua kelompok.
Pantun,mantera,tinggung
sangihe yang diajarkan secara turun temurun. Mantera mengalami
perubahan isi sejak mas
mengalami perubahan isi melainkan mengalami perubahan
Tinggung-tinggung atau teka
masyarakat di Istana kerajaan tabukan.
syair muncul dalam bentuk berbeda
musik tagonggong. Syair lalu dilantukan “bernada”
38
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAWALASĔ
taggongong mĕbawalasĕ sambo.
akan mĕtagonggong” adalah
atau mĕbawalasĕ sambo, tari gunde dan
beberapa folklore sangihe tentang Makaampo
orang sangihe dalam berpuisi
umum dari budaya nusantara
syair dalam bentuk percakapan yang memiliki
Pantun
,tinggung-tinggung adalah sastera lisan tertua di
masuknya Islam dikepulauan sangihe. Pantun tidak
cara penyajian.
teka-teki pertama kali mendapat respons
Dikemudian hari kegiatan berbalas
yaitu disajikan dengan iringan
yair penthatonik dan
tagonggong” Makaampo,
mum las
39
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
dibalas oleh orang lain. Sambil melantunkan sambo setiap orang harus
memukul tagonggong sesuai irama yang diinginkan.
Ada tiga unsur penting dalam mĕbawalasĕ sambo yaitu :
mĕtagonggong, mĕsambo,mĕbawalasĕ. Inti dari kesenian ini adalah
mĕbawalasĕ. Setiap lawan sambo harus mampu menjawab atau membalas
syair yang disambokan. Kalau tidak maka akan dianggap kalah.
Berdasarkan cerita dari kampung dagho, kalamadagho dan pananaru
bahwa pulau sambo yang ada di pantai kalamadago terlempar akibat
permainan tagonggong dan sasambo seorang yang sakti. Sampai saat ini,
pulau tersebut dinamakan pulau sambo. Dimasa lalu, setiap sambo
yang dilantunkan memiliki kekuatan magic yang dapat membunuh
orang.Bentuk lagu sambo terdiri dari : lagung balang,lagung sonda,
lagung sasahola,lagung duruhang, dan lagung bawine.
Setelah masuknya bangsa eropa, kesenian mĕbawalasĕ melahirkan
bentuk baru yaitu saling berbalas lagu atau mĕbawalasĕ kantari. Lagu-lagu
yang dinyanyikan mendapat sentuhan diatonis eropa yaitu nada
do,re,mi,fa,sol,la,si.
Pada awalnya, kesenian mĕbawalasĕ kantari dilaksanakan pada
kumpulan keramaian sebagai pertunjukan rakyat dalam acara-acara
hayatan, pernikahan dan kematian. Proses mĕbawalasĕ kantari mula-mula
adalah seseorang berdiri sambil menyanyi lalu diikuti oleh peserta yang
hadir sambil menunjuk satu demi satu orang yang hadir ketika lagu
berhenti, dengan sendirinya orang yang tertunjuk bersamaan dengan akhir
lagu harus berdiri menggantikan orang yang sedang berdiri. Kesenian ini
kemudian disebut “tunjuk”.
Kesenian mĕbawalasĕ kantari menemui persimpangan sejak
masuknya injil di tanah sangihe. Pada saat itu lahir bentuk paduan suara
gereja yang disebut Zangvereeninging yang diambil dari kata dasar zang
(bahasa belanda) yang berarti nyanyian. Di manganitu kelompok paduan
suara ini berkembang sejak akhir tahun 1800 dengan sebutan
sampregening. Diawal tahun 1900 Nn. C.W.S. Steller menawarkan diri
menjadi pelatih sampregening jemaat kristen Paghulu.
Lambat laun kesenian eropa ini terinkulturasi dengan kesenian
“tunjuk”. Kemudian muncul kesenian masamper yang merupakan
40
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
persilangan antara paduan suara gereja dan kesenian tradisional.
Pengistilahan sampri sebagai paduan suara masih digunakan sampai tahun
1960-an. Bersamaan dengan itu sudah muncul istilah samperě yang
menggantikan istilah tunjuk pada kegiatan mebawalasě kantari.
Kesenian tradisional adalah seni budaya yang sudah sejak lama
temurun,telah hidup dan berkembang pada suatu daerah tertentu ( Okka
A.Yati dalam M.M.Bawelle, Pengaruh Partisipasi Sponsor terhadap
pengembangan seni masamper di kecamatan malalayang kotamadya
manado, Skripsi,1998)
Masamper mula-mula berasal dari bahasa belanda Zang sfeer yang
artinya menyanyi bersama dalam suasana tertentu. Masyarakat sangihe
menyebutnya Samper dan mendapat pengaruh imbuhan “me” menjadi
mesamper. ( Taman Budaya, Rumusan hasil sarasehan masamper, 15
0ktober 1992 dalam M.M.Bawelle, Pengaruh Partisipasi Sponsor terhadap
pengembangan seni masamper di kecamatan malalayang kotamadya
manado, Skripsi,1998)
Unsur utama Masamper adalah : unsur musik vokal,unsur
gerak,unsur mebawalase atau berbalas-balasan. Menggunakan nada diatonik
dan dinyanyikan seperti paduan suara / koor. ( M.M.Bawelle, Pengaruh
Partisipasi Sponsor terhadap pengembangan seni masamper di kecamatan
malalayang kotamadya manado, Skripsi,1998)
Di Indonesia hanya ada dua bentuk paduan suara tradisional yaitu
paduan suara tradisional batak dan masamper dari sangihe. Masamper
terbentuk dari beberapa babakan berdasarkan jenis lagu yang dinyanyikan.
1. Lagu pertemuan atau perjumpaan.
Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang
bertemakan perjumpaan dalam suatu acara hayatan seperti
perkawinan dan kematian. Jenis lagu ini mengalami perubahan
dengan tema lagu perjumpaan secara umum.
2. Lagu rohani / pujian
Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang
bertemakan rohani. Termasuk aktifitas religius agama sangihe
maupun agam kristen.
3. Lagu-lagu bertemakan kepahlawanan
KEBUDAYAAN SANGIHE
Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang
bertemakan kepahlawanan pahlawan sangihe. Tetapi kemudian
seiring dengan perkembanga
4. Lagu-lagu bertema sastera sangihe.
Pada jenis ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang bermakna dan
bernilai sastera tinggi, tidak boleh menggunakan kosa kata bahasa
sangihe sehari-hari.
5. Lagu percintaan
Pada jenis lagu ini mengambil tema cinta dan kasih
sayang orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, kepada
sesama,kepada teman dan sahabat, kepada orang dewasa yang akan
dan saling bercinta (pacaran), problema cinta muda
rumah tangga.
6. Lagu perpisahan
Babakan ini adalah babakan yang paling terakhir dimana acara
mêsamperê sudah selesai.Berakhirnya mêsamperê ditandai dengan
tidak ada lagi kelompok yang mampu membalas lagu terakhir.
Dimasa lalu kegiatan mêsamperê dapat di
sampai 48 jam. Hal ini bisa terjadi apabila kelompok yang ikut
dalam mêsamperê memiliki banyak
menarik dimasa lalu, karena kehabisan lagu seorang pangataseng
(pemimpin mêsamperê) dapat m
mêsamperê sementara berlangsung.
Meskipun lagu – lagu masamper banyak menggunakan lagu
tahlil dan mazmur, tetapi ditahun 1800
budaya umum sangihe. Hal ini terbukti dengan bany
muslim yang ikut dalam kegiatan “tunjuk”. Mereka mengetahui
banyak lagu-lagu kristen.
beberapa tua kampung di Tabukan Utara
sampregening maka kebudayaan masamper lebih identik dengan
kristen.
Tahun 1980
berbagai kegiatan.
masamper berubah dengan munculnya grup
modern yang tujuann
positif dari munculnya grup masamper komersial adalah semakin
meluasnya pengenalan akan budaya sangihe ke seluruh Indonesia.
41
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
perkembangan muncul tema kepahlawanan nasional.
muda-mudi,problem
diselenggarakan selama 24
perbendaharaan lagu. Hal yang
menciptakan lagu pada saat kegiatan
– lagu
1800, budaya masamper adalah
banyaknya kaum
(penjelasan bpk. Luqman Makapuas dan
Utara) Sejak munculnya
1980-an, masamper mulai dilombakan dalam
Menjelang tahun 1990-an nilai-nilai asli
grup-grup masamper
tujuannya mengarah kepada kegiatan komersial.. Nilai
n selenggarakan enciptakan aknya
KEBUDAYAAN SANGIHE
Selain beberapa seni musik yang sudah dijelaskan, Masayarakat sangihe
juga mengenal beberapa permainan musik lain seperti:
bambu melulu, musik puhe dan music orkes. Musik orkes adal
ansambel music yang diwariskan sejak masa Spanyol.
Kelompok Zangvereeninging dari Manalu,
pimpinan Bpk.
Pementasan Masamper dalam rangka
42
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
musik tunta, musik
adalah satu bentuk
Beltazar Tatontos thn 1927
Sail
Bunaken,Bitung 2009
h
43
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
C. TARIAN SANGIHE
Masyarakat sangihe telah mengenal tari sejak zaman pra sejarah. Dimulai
dengan lahirnya tari lide dalam upacara sundeng. Tari lide kemudian berubah
karakternya menjadi mêsalai (salai dalam bahasa sangihe artinya menari).
Konseptual tari sangihe pada awalnya dilakukan dalam upacara sundeng
yang merupakan bagian dari keutuhan teatrical upacara dimana terdapat
berbagai macam kesenian yang ditampilkan dan setiap orang melakukannya
berdasar peran masing-masing. Mêsalai memasuki bentuk baru yaitu :
pementasan secara spontan dalam acara-acara keramaian. Mêsalai yang
berakar dari tari lide ditarikan oleh sekelompok orang dengan peran tunggal
disertai gerakan dan ekspresi spontan, tanpa dibentuk sebelumnya. Konsep
utama tari ini adalah gerakan bebas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
Tari ini mengalami perubahan-perubahan sampai muncul tarian Gunde.
Berdasarkan fungsi dan perannya dalam kehidupan sosial, tari -
tarian sangihe dikelompokan dalam dua bagian yaitu ; Tarian Istana dan
Tarian Rakyat.
a. Tarian Istana
1. Tari Gunde
Pada awalnya tarian gunde ditarikan secara perorangan
dikampung-kampung oleh para wanita yang masih perawan pada
upacara perkawinan yang menggambarkan kesucian seorang wanita
sangihe. Gunde dalam bahasa sangihe berarti lambat. ( A.
Takaonselang-Manganitu,wawancara. 2006).
Pada suatu masa masuklah kesenian ini menjadi bagian dari
kesenian Istana dikerajaan Manganitu. Penari dipilih dari penaripenari
terbaik di tiap kampung. Gerak dasar tari gunde teradaptasi
dari tari lide. Mulanya tarian ini dipentaskan sebagai tarian hiburan
untuk raja, kemudian berubah fungsinya menjadi tarian penjemput
tamu penting kerajaan yang dilakukan di depan istana. Seiring
perkembangan waktu, ada beberapa penari gunde istana lalu menjadi
selir raja. Persebaran penari gunde meliputi semua wilayah kerajaan
Manganitu.
KEBUDAYAAN SANGIHE
2. Tari Rangsang Sahabe dan Tari
Tari ransa / rangsang sahabe
yang tercipta dari sebuah sayembara. Tarian ini lahir dari lingkungan
istana kerajaan tabukan tahun 1700.Pada saat itu terjadi kefakuman
jabatan raja setelah Raja
jabatannya. Untuk mengisi kekosongan jabatan maka di persiapkanlah
satu lomba khusus kepada dua orang calon pengganti raja. Dua
orang tersebut adalah
adalah lomba dayung (dorehe) . Jalur yang ditempuh mulai dari
Salimahe sampai ke Punge
Kompetisi itu terjadi kira
Dalero dengan kecurangan. Dari kemenangan itu dalero berhak
menduduki tahta kerajaan. Nama lain dari dalero adalah Markus
Jakobus Dalero. Untuk memperingati kemenangan tersebut, dalero
menciptakan tari yang dinamakan t
menduduki jabatan Jogugu di Sahabe. Pandialang yang kecewa, lalu
menciptakan satu tarian tandingan yang disebut Rangsang Sahabe.
Secara umum tari alabadiri dan ransang sahabe memiliki kesamaan.
Tari alabadiri, dapat dikelompokam sebagai bentuk tarian teatrikal.
Penari membawakan peran dari sebuah cerita dalam bentuk gerak tari.
Tari alabadiri terbentuk dari 10 tahapan dengan konsep tari dan cerita
yang berbeda. Tari alabadiri menggunakan beb
tari seperti ; kulubalang,kaliau,tokoting,sinsing,sondang. Tarian ini
khusu dimainkan oleh laki
dan dipimpin oleh seorang pangataseng dan dua kapita.
Tari Gunde untuk
penjemputan
Tamu.
Foto : Pergelaran
Budaya Sangihe di
Surabaya, 2007
44
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Alabadiri.
atau dangsang sahabe adalah tari
Don Fransiskus Yuda – I mengakhiri
. Dalero dan Pandialang. Lomba yang disiapkan
h ( pulau beng laut).
kira-kira tahun 1720 dan dimenangkan oleh
tari Alabadiri. Pandialang hanya
, beberapa properti pendukung
laki-laki diiringi “tambor” (bukan tagonggong)
. ari erapa
45
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Tahapan tari alabadiri adalah :
1. Penghormatan kepada penonton (pembukaan)
2. Gerakan dengan alat kulubalang (tongkat berhias)
3. Gerakan dengan alat tokoting (cambuk dari rotan)
4. Gerakan dengan alat sinsing (cincin)
5. Gerakan dengan alat sondang ( pisau kecil)
KEBUDAYAAN SANGIHE
6. Gerakan mesalai (menari
7. Gerakan memainkan kaliau (perisai) ke telinga
8. Gerakan memainkan kaliau (perisai) ke lutut
9. Gerakan mangaemba (terbang seperti burung)
10. Penghormatan kepada penonton (penutup)
Filosofi utama tarian ini bermakna “tunduk
46
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
menari-nari)
dan patuh pada penguas
penguasa.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tari Upase, adalah tarian yang menggambarkan kesiapan
pengawalan raja dalam setiap
Opase.
Kelompok penari Alabadiri (atas) Dangsang sahabe (bawah), thn
1927 di istana kerajaan Tabukan.
47
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
, peperangan. Tarian ini disebut juga
KEBUDAYAAN SANGIHE
12 anak bangsawan laki
48
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Pasukan opase dalam tarian upase,
Kerajaan Tabukan 1927
laki-laki dalam pasukan běngko
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tari Běngko
kerajaan Tabukan dalam mengawal raja. Tari ini menggambarkan
kesiapan pasukan perang dalam menghadapi musuh.
sangihe, bengko berarti tombak.
Tari Kabasaran Tambor
semangat perang, yang
tambor. Diperkirakan bentuk kesenian ini teradaptasi dari kesenian
eropa. Tarian ini sudah punah dan tidak pernah lagi dimainkan.
Pasukan Kabasaran Tambor kerajaan Tabukan,1927
b. Tarian rakyat
1. Tari Salo
Salo berarti mengamuk.
dilakukan dalam upacara sundeng sampai masuknya bangsa eropa di
Sangihe. Prosesi salo dilakukan dengan cara mengelilingi korban
persembahan berupa babi. Diiringi bunyi
sambil menikam babi yang tergantung di pohon.
sebagai ekspresi perang
kepercayaan sundeng
upacara, wawancara, 2006
kegiatan ritual adat kemudian menjadi bagian dari tari pertunjukan
rakyat. Biasanya tari ini diperagakan saat ada kunjungan tamu
terhormat atau dalam acara tulud
upase,tari bengko,tari alabadiri dan dangsang sahabe yang
49
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
ngko, adalah tari yang diadaptasi dari peran prajurit
Dalam bahasa
Tambor. Tarian ini menggambarkan
disampaikan melalui pukulan-pukulan
Tari salo adalah bentuk tarian purba yang
bunyi-bunyian musik etnik sangihe
Tari salo lahir
antara kebaikan dan kejahatan dalam
(G, Makamea,dan masyarakat disekitar tempat
2006) Tari salo yang dulunya bagian dari
tuludě. Selain salo terdapat juga tari
. agian .
50
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
menggambarkan semangat, dalam bentuk tari theater. Tari salo adalah
tarian rakyat sedangkan tari upase,tari bengko,tari alabadiri dan
dangsang sahabe adalah tarian istana.
Pergelaran Tari Salo, pada peringatan Hardiknas 2009 di Tahuna
2. Tari Ampa wayer
Di era tahun 1940 – an, lahir sebuah kesenian rakyat baru,yang
disebut “ampa wayer”. Kesenian ini adalah kesenian rakyat yang
muncul dari kepulauan Siau. Kesenian ini merupakan adaptasi dan
perpaduan dari kesenian eropa dengan kesenian setempat. Tarian ini
sudah berkembang sejak masa penguasaan spanyol di kerajaan Siau
dan menemukan identitasnya menjelang berakhirnya perang dunia ke -
II. Ampa wayer adalah gerak tari kelompok yang dipimpin oleh
seorang kapel. Gerakan tari terbentuk berdasarkan irama musik
pengiring . Pada dasarnya, inti dari kesenian ini adalah tarian mudamudi
yang ditarikan secara spontan dalam kumpulan keramaian
sebagai bentuk ekspresi kebebasan dan kemerdekaan.
3. Tari Mědunde.
Tari ini berkisah tentang latar belakang lahirnya pulau siau. Sepintas,
cerita dalam tari ini mirip dengan kisah Tumatenden dari Minahasa
Utara dan kisah Joko Tarub dari jawa. Cerita dalam tari ini
mengisahkan perjodohan antara seorang laki-laki bernama Mědunde
dengan seorang bidadari dari khayangan. Awal kisah, medunde
seorang yang pintar berpuisi suatu ketika memasuki hutan untuk
51
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
mencari burung. Tetapi dia justru bertemu dengan seorang bidadari yang
sedang mandi bersama 9 orang saudaranya.Salah satu dari bidadari itu
yang kemudian menjadi isterinya. Dari pernikahan itu lahir dua orang
anak bernama pahawon sulugě dan kanawoeng (kanawoeng bergelar
pahawontoka). Siau diambil dari kata sio (sembilan) dari kisah
sembilan bidadari dan Mědunde (buku toponimi,............sudin
kebudayaan dinas diknas, 2006)
4. Tari Kakalumpang
Tari ini berkembang sejak masa kekuasaan VOC di sangihe yang
dipadukan dengan aktifitas masyarakat. Latar belakang ceritanya
adalah : Ternate sebagai perpanjangan tangan VOC mengklaim
kekuasan atas sangihe, sehingga rakyat sangihe harus memberikan
upeti kepada kesultanan ternate.
Upeti yang diberikan berupa minyak kelapa. Dari kegiatan
mencukur kelapa inilah lahir kesenian Měkakalumpang. Tari
kakalumpang juga mendapat sentuhan maluku dengan tari gaba-gaba.
Pergelaran tari kakalumpang,hardiknas 2009 di Tahuna
Masih banyak kesenian sangihe yang tidak dapat dikembangkan seperti
: Seni mebowo dan seni meganding.Seni mebowo, adalah bentuk seni
yang dilakukan dalam bentuk nyanyi untuk menidurkan bayi dalam
ayunan. Pengungkapan lagu hanya dengan syair yang bermakna
puitis.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Ayunan bayi suku sangihe
Selain beberapa kesenian yang sudah dipaparkan
sebelumnya,juga terdapat
Hadrah mangut, Samrah dan Turunan
sangihe, pada awalnya lahir dan berkembang di Tabukan kemudian
menyebar ke seluruh daerah yang berpenduduk muslim.
Kesenian hadrah
52
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
kesenian Islam asli sangihe yaitu :
gut, Turunan. Semua jenis kesenian Islam
.
KEBUDAYAAN SANGIHE
SENI RUPA SANGIHE
Seni rupa adalah ungkapan
bermakna yang diwujudkan melalui media,
tekstur, dan gelap terang yang ditata dengan prinsip
karya sani rupa disangihe sudah dilakukan dari
didinding goa, gerabah dll. Penciptaan karya seni rupa di dominasi oleh karya seni
pakai dalam bentuk kerajinan. Yang termasuk k
: Pembuatan tekstil termasuk didalamn
sangihe,kerajianan anyam,arsitektur bangunan,
Semua aspek penciptaan karya seni rupa sangihe didasari oleh
A. Ragam Hias sangihe
Sejak masa prasejarah, suku sangihe sudah mengenal dan menggunakan
ragam hias. Ragam hias tertua ditemukan pada gerabah atau perlengkapan dapur
manusia purba yang oleh para ahli diperkirakan berumur 5000 tahun.
Dibawah ini adalah ragam hias yang dimodifikasi dari ornamen dengan teknik
cukil dan tekan (membutsir) pada gerabah.
Persebaran gerabah terbanyak dengan motif seperti ini di temukan di Talaud,juga
di temukan dibeberapa gua karang di sangihe.
Ragam hias ini di kelompokan da
Ragam hias tipe raramenusa
53
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB - VI
gagasan atau perasaan yang estetis dan
titik, garis, bidang, bentuk, warna,
prinsip-prinsip tertentu. Ekspresi
saman pra sejarah seperti lukisan
karya seni rupa sangihe diantaranya
embuatan didalamnya busana atau pakaian orang
ragam hias,pembuatan perahu.
aktifitas tradisi.
. lah alam tipe Raramenusa.
arya a
54
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Selain ragam hias tipe raramenusa terdapat juga ragam hias lain
berdasarkan desain dari K.G.F Steller. Ragam hias sangihe digunakan untuk
berbagai macam kerajinan seperti pada pembuatan tikar (sapie/tepihê), kain
pembatas ruangan ,kain alas tempat tidur,ukiran kawila (tempat sirih).
DALOMBO
SUWU
LOMBANG
KEBUDAYAAN SANGIHE
PERHIASAN YANG DI BENTUK DENGAN TEKNIK MERONCEH
NALANG U ANGING
TALUKE MALIHUGE U GINANTOLANG
55
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
ALANG MALIHUGE
KEBUDAYAAN SANGIHE
ISIN KEMBOLENG
PAPOAHIANG
56
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
KUI
KEBUDAYAAN SANGIHE
KAKUNSI
57
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
TIWATU
SALIKUKU
SOHI
58
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
A. Tekstil
Kerajinan yang berhubungan dengan tekstil di kepulauan sangihe sudah
diproduksi sejak lama, seperti pembuatan kain,tirai pembatas ruangan,alas
meja, kain untuk alas tempat tidur dan pakaian.
a. Tenun kain
Tenunan masuk kewilayah Nusantara bersamaan dengan masuknya
bangsa-bangsa yang sudah mengenal perunggu dan besi.Mereka
memperkenalkan alat tenun sederhana yang diikatkan pada tubuh dengan
nama Gedogan.Tenunan ini menggunakan susunan benang lungsi yang
berkesinambungan. Jenis - jenis serat yang ditemukan di Indonesia
sebagai bahan dasar tenun adalah : serat rami, lontar,raffia,abaca dan serat
nenas.
Di Sangihe, benang tenun terbuat dari serat Abaca (musa textilis atau
musa mindanesis ) sejenis pisang pisangan dalam bahasa sangihe disebut
koffo atau hote. Tanaman hote ini dikenal juga dengan nama Manila
Hemp. (Cut Kamaril Wardhani,Ratna Panggabean,Tekstil,2005).
Motif - motif hiasan tenun di Indonesia mendapat pengaruh dari china,
india dan arab. Selain sebagai busana, kain digunakan dalam berbagai
aktifitas kehidupan manusia seperti upacara keagamaan dan mas kawin.
(Ensiklopedi Indonesia)
Suku sangihe mengenal beberapa teknik pewarnaan kain
menggunakan bahan alam sekitar. Warna merah, ungu, kecoklatan
menggunakan kulit batang bakau ( Mangrove) dan Seha atau mengkudu (
Morinda citrifoia) Tanaman bakau dan mengkudu tersebar di seluruh desa di
pulau sangihe besar.Warna merah dari kesumba. Dari bukti kain yang
ditemukan melalui efek warna yang tersisa dari kain – kain tua tidak
ditemukan teknik pewarnaan menggunakan warna kuning. Warna-warna
yang nampak pada kahiwu tua adalah merah,ungu,kecoklatan, coklat muda
yaitu warna asli hote.
Aktifitas tenun sangihe mengalami kemunduran mulai dari tahun 1889.
Pada saat itu pohon – pohon pisang abaca dipotong atas perintah
pemerintahan colonial belanda dan diganti dengan kapas, tebu dan
tembakau. Kerajiann tenun bertahan sampai tahun 1994 dengan dikirimnya
seorang pengrajin asal kampung Lenganeng ke Jakarta. Meskipun
demikian, sampai saat ini disetiap desa masih memiliki satu sampai tiga
orang yang boleh menenun kain koffo. Alat - alat tenun masa lalu masih
dimiliki oleh pengrajin dibeberapa desa seperti, Manumpitaeng,
Lenganeng Batunderang.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tahun 1898, kerajaan Tabukan mengirim kain koffo di Manado
pesanan para orang kaya
pameran kain koffo di Pekalongan dan mendapatkan penghargaan
Erediploma. Tahun 1926
mendapatkan penghargaan
pamerkan di Jogyakarta.
Kain kofo (pembatas ruangan) dan sapu tangan yang ditemukan di
Manumpitaeng berumur ±
Selain memproduksi kain tenun
mampu membuat busana atau pakaian
disebut balí’, pakaian perempuan disebut
(baniang). Alat yang digunakan untuk menenun
Diperkirakan umur baju ini mencapai 120 tahun.D
Manumpitaeng,kauhis dan dibeberapa tempat lain di sangihe
59
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
atas
kaya.Tahun 1924 kerajaan Tabukan mengadakan
raja Tabukan berpameran di Manado
tembaga. Ditahun yang sama kain koffo di
120 tahun.
(kahiwu), suku sangihe juga
pakaian. Secara umum pakaian laki-laki
, laku tepu, kemeja disebut
kain disebut Kahiwuang
Laku tepu
Ditemukan di
sangihe.
.anado
, Kahiwuang.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Dalam kehidupan sehari hari suku sangihe dimasa lalu
dapat menenunjukan perbedaan status social. Ada pakaian yang
digunakan di kalangan istana dan para bangsawan dan ada juga yang
digunakan oleh masyarakat biasa. Secara umum
bangsawan dan pakaian rakyat biasa
membedakan adalah teknik pewarnaan dan atribut atau asesoris yang
digunakan. Sejak masuknya bangsa eropa di kepulauan sangihe, pakaian
dan asesoris mengalami perubahan model dan fungsi dalam kehidupan
bermasyarakat.
b. Pakaian wanita “ Laku tepu
Laku tepu permaisuri (boki) dan 12 dayang
dari kerajaan Tabukan awal tahun 1920.
60
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
alam lalu, pakaian
model pakaian
tidak jauh berbeda. Yang
tepu“
dayang-dayang
.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Laku tepu seorang perempuan
Manganitu,1920
Laku tepu kreasi baru
61
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
1920-an
KEBUDAYAAN SANGIHE
Pakaian wanita
c. Model Konde
Konde dalam bahasa sangihe disebut
digunakan oleh perempuan sangihe pada umunya berbentuk
Bentuk konde terdiri dari du
rangkai tepat di ubun-ubun dan konde umum berada dipusar kepala.
Konde ampuang
62
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Ampuang (pemimipin agama
boto. Model Konde yang
boto pusige.
dua macam yaitu : konde untuk ampuang di
asli Konde model ampuang
.
63
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
d. Pakaian laki-laki baniang (kemeja) dan laku bali.
Baniang raja, D. Sarapil dan W. Sarapil dari
kerajaan Tabukan
Baniang kreasi baru
KEBUDAYAAN SANGIHE
Laku bali, dari manganitu
64
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Laku bali, dari tabukan
Laku bali, kreasi baru
,
KEBUDAYAAN SANGIHE
Penggunaan
Pakaian model k
65
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
laku bali dilengkapi dengan poporong
kingking – kongkong,
pakaian tari perang
KEBUDAYAAN SANGIHE
e. Model poporong
Dalam bahasa sangihe, penutup kepala adalah poporong.Penutup
kepala telah memberikan batas pada kedudukan
pergaulan sehari-hari, karena status social dan kedudukan orang sangihe
tergambar pada penggunaan dan bentuk poporong.
Poporong dari kain koffo, umur ± 100 tahun
Poporong sangihe berdasarkan tradisi lama
66
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
orang sangihe dalam
ngihe lama.
67
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Model poporong kreasi baru
B. Kerajinan tangan (handycraft)
Kerajinan rakyat yang mendominasi pekerjaan rumah tangga masa lalu
adalah pembuatan anyaman. Anyaman sangihe memiliki cirri khas khusus
dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi utara. Tidak diketahui kapan
orang sangihe mulai menganyam. Anyaman sudah menjadi bagian sehari-hari
dalam kehidupan orang sangihe. Kebanyakan dari hasil kerajinan anyam
dibuat untuk benda pakai, seperti tikar, bika,tempat buah,keranjang,perangkap
ikan dan lain-lain.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Selain anyaman, orang sangihe juga memproduksi
tembikar (dari bahan tanah)
Aktifitas pekerjaan pandai besi sudah dilakukan sejak masa
Pendapat lain juga mengatakan bahwa produksi pandai besi dimulai abad ke
15. Alat yang dihasilkan oleh pandai besi tujuannya sebagai
yang digunakan di rumah,perkebunan maupun untuk berperang
yang ahli dalam menempah besi disebut “
Sondang
Pedang adat sangihe yang dinamakan Bala, model pedang inilah yang
pernah dimiliki Makaampo dalam setiap
68
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
gerabah atau
dan alat-alat yang dibuat oleh pandai besi.
Makaampo
benda pakai
berperang. Orang
kipung”.
Tole Loahi
peperangan.
Makaampo.
69
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Alat – alat yang di buat oleh kipung sampai saat ini.
Masyarakat sangihe juga mengenal seni teatrikal. Kesenian ini
berkembang di daerah kuma yang dinamakan Gagaweang. Kesenian ini
ditampilkan setahun sekali setiap akhir tahun. Teknik pergelarannya dalam
bentuk parade keliling kampung dengan pakaian dan atribut kerajaan.
Komposisi barisan berdasarkan peran sebagai berikut : Barisan terdepan
adalah Raja yang diikuti oleh bawahannya mulai dari
Bobato,Jogugu,Kapiten laut,Mayore,Hukum Mayore,Sadaha,
Kapita,Kumelaha,Sawehi (dukun),Mihinu ( Tukang palakat). Setelah selesai
berkeliling kampung para peserta makan bersama di rumah tua adat atau
kapitalaung, sebelum makanan ini dimakan bersama, harus dicicipi oleh
orang yang berperan sebagai sadaha. Dengan maksud mengetahui apakah
makanan tersebut beracun atau tidak.
( Informasi, Bpk. Derek Lahunduitan,Kuma – November 2009)
70
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB – VII
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Orang sangihe adalah satu-satunya suku pelaut di utara Indonesia. Nenek
moyang orang sangihe sudah mengarungi lautan luas ke timur sampai ke
halmahera dan papua, keselatan sampai ke pulau jawa dan sampai ke luar
nusantara yaitu ke china.
“ Yang pasti, pulau-pulau ini sudah sejak penemuan Ferdinand Magelhaes dalam
tahun 1512, telah berhubungan dengan dunia barat ,juga oleh penangkap ikan
paus dari amerika.Orang china dan orang arab sudah sejak dahulu mulai
berdagang dengan penduduk dan kawin dengan wanita pribumi. Sebagai pelaut
yang berani penduduk pulau ini sejak berabad – abad lalu merantau dengan
perahu-perahu mereka ke berbagai bagian kepulauan hindia. Pieter Alstein dan
David Haak dalam laporan kunjungannya ke Talaud menulis bahwa penduduk
dengan perahu-perahu sendiri berlayar ke Batavia,Malaka,manila dan Siam.
(D.Brillman,Zending dikepulauan sangi, dan talaud.terjemahan GMIST)
A. Perahu sangihe
Kemampuan membuat atau merancang berbagai perahu sudah dimiliki
sejak nenek moyang. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh suku lain di
Sulawesi utara. Bahkan sampai saat ini, beberapa kapal yang digunakan
sebagai angkutan laut pada jalur pelayaran philiphin,talaud,manado,bitung,
halmahera diproduksi oleh orang sangihe yang bukan ahli perkapalan secara
akademisi.
Perahu merupakan sarana vital yang menghubungkan beberapa pulau di
kepulauan sangihe. Tanpa perahu, perekonomian sangihe akan menjadi
pincang. Setiap kampong pesisir memiliki ahli membuat prahu. Kegiatan ini
sudah menjadi bagian dari adat sangihe. Dari budaya membuat perahu
kemudian muncul ritual tua menondo sakaeng atau menurunkan perahu.
Perahu sangihe sudah dikenal secara luas sejak masuknya spanyol di
Sangihe. Perahu sangihe sering digunakan sebagai armada perang
diantaranya sebagai armada perang laut antara portugis dan voc di tondano.
Perahu tertua sangihe adalah bininta atau tumbilung, kemudian muncul perahu
kora-kora,konteng,londe dan bolotu, termasuk diantaranya perahu untuk
lomba dayung.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Penggunaan perahu dalam aktifitas sehari hari berbeda fungsinya.
sangihe digunakan untuk manangkap ikan,berlayar antar pulau dekat,antar
pulau yang jauh,armada perang,sebagai tumpangan raja,sebagai perahu
raja,perahu pengawal raja,perahu tempur,perahu tambangan (bolotu) perahu ini
digunakan apabila perahu kora
lomba. Sealain perahu pakai terdapat juga miniature perahu yang digunakan
dalam upacara menahulending banua yang disebut
berguna untuk membawa peny
dibuang bersama dengan miniature
Beberapa model perahu berdasarkan desain K.G.F. Steller dalam
buku “ Sangirees– nedherlands woordenboek ”
dan di modifikasi untuk disesuaikan oleh Alffian Walukow
1. Perahu Bininta
Grafland dalam buku Minahasa masa lalu dan
Jost Kulit) menulis bahwa sudah ada perahu sangihe yang berlabuh di
pelabuhan manado tahun 1800 dengan nama perahu Kora
tumbilung. Perahu tumbilung sama dengan bininta tetapi tumbilung
menggunakan tiga bahateng.
Perahu tumbilung be
yg digayakan
71
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Perahu
ila kora-kora tidak bisa merapat kepantai dan perahu
lapasi. Perahu tersebut
penyakit dan semua kesialan manusia didarat dan
perahu kelaut.
dari model yang sebenarnya
Walukow.
masa kini (terjemahan
Kora-kora dan
berdasarkan desain Mr. K.G.F.Steller
oleh Alffian Walukow
. akit
KEBUDAYAAN SANGIHE
2. Perahu kora – kora, perahu ini adalah perahu kenegaraan raja
sangihe.
3. Perahu jenis londe dan perkembangannya
Londe
Perahu kora
Perahu kora
lengkap Alffian walukow
72
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
, raja-raja
kora-kora desain Mr. K.G.F. Steller
kora-kora (dorehe) desain adaptasi
KEBUDAYAAN SANGIHE
Pelang adaptasi dari londe
Perahu jenis pambut, merupakan perahu tradisional philipin yang juga
diproduksi dan digunakan di sangihe.
Tambatan perahu di Kampung Kaluwatu
Foto . Alffian Waluko
73
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
KEBUDAYAAN SANGIHE
4. Perahu konteng
Perahu ini adalah perahu yang digunakan raja dalam kunjungannya
ke daerah bawahan.
Perahu pamo, adalah adaptasi dari konteng.
Perahu bolotu
74
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
75
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Nenek moyang orang sangihe sudah menggunakan teknologi dan
mengenal ilmu pengetahun sejak lama diantaranya, pembuatan berbagai macam
perahu,mengenal sistim perbintangan, peredaran bulan di langit dan penanggalan
kalender. Tidak diketahui sejak kapan kemampuan akan pengetahuan dan
teknologi dimulai tetapi sudah sejak lama digunakan.
NAMA MATA ANGIN
Mata angin indonesia Nama sangihe
Utara Sawenahe
Utara timur laut Laesuiki sawenahe
Timur laut Laesuiki
Timur timur laut Laesuiki dahi
Timur Dahi
Timur tenggara Mahaing dahi
Tenggara Mahai
Selatan tenggara Mahaing timuhe
Selatan Timuhe
Selatan barat daya Tahanging timuhe
Barat daya Tahanging
Barat, barat daya Tahanging bahe
Barat Bahe
Barat, barat laut Poloeng bahe
Barat laut Poloeng
Utara barat laut Poloeng sawenahe
NAMA HARI
Nama hari Indonesia Nama Sangihe
Senin Mandake
Selasa Salasa
Rabu Areba
Kamis Hamise
Jumat Sambayang
Sabtu Kaehe
Minggu Misa
76
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
NAMA BULAN KALENDER MASEHI DALAM BAHASA SANGIHE
Nama bulan Indonesia Nama Sangihe
Januari Hiabe
Pebruari Kateluang
Maret Pahuru
April Kaemba
Mei Hampuge
Juni Hente
Juli Bulawa kadodo
Agustus Bulawa geguwa
September Bewene
Oktober Liwuge
Nopember Lurange
Desember Lurangu tambaru
DAFTAR NAMA BULAN DI LANGIT BERDASARKAN HARI
Hari Nama bulan
30 Tĕkalĕ
1 Kahumata – Pakĕsa
2 Kahumata – karuane
3 Kahumata - katelune
4 Sebangu – harese
5 Batangengu - harese
6 Likud’u - harese
7 Sehangu - letu
8 Batangu – letu
9 Likud’u - letu
10 Arang
11 Sehangu pangumpia
12 Batangnegu pangumpia
13 Umpause
14 Limangu bulang
15 Teping
16 Sai pakesa
17 Sai karuane
77
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
18 Sai katelune
19 Sehangu harese
20 Batangengu harese
21 Likudu harese
22 Sehangu letu
23 Batangengu letu
24 Likud,u letu
25 Awang
26 Sehangu pangumpia
27 Batangengu pangumpia
28 Umpause
29 Limangung basa
KEBUDAYAAN SANGIHE
B. Rumah Tempat Tinggal
Berdasarkan temuan ahli, tempat tinggal manusia sangihe saman pra
sejarah adalah di goa – goa karang. Dalam legenda
sangihe purba adalah di dahan pohon besar dan di pohon
roboh. Seiring perkembangan waktu dan dikenalnya teknologi
membuat rumah – rumah sederhana.
Pada awalnya bentuk rumah sangat sederhana. Berdasarkan pemahaman
beberapa budayawan sangihe bahwa rumah orang sangihe adalah
pamangkonang. (wawancara. M. Madonsa.2007). Kemudian berkembang
menjadi rumah ikat. Dikatakan rumah ikat karena tidak menggunakan paku
tetapi diikat dengan rotan.
Pamangkonang
78
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
legenda, tempat tinggal manusia
- pohon yang
teknologi, mereka mulai
. akan a
KEBUDAYAAN SANGIHE
Konstruksi rumah ikat rancangan : Alffian Walukow
79
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
KEBUDAYAAN SANGIHE
Konstruksi rumah ikat
Rumah suku sangihe tidak memiliki bilik
spanyol di kepulauan sangihe, orang sangihe sudah mulai mendirikan rumah
dengan konstruksi beton menggunakann semen dari k
awal kolonial belanda akhir 1700 sampai awal
mulai menggunakan bilik pada konstruksi rumah.
di kampung Lehupu.
Konstruksi rumah kayu orang sangihe adalah rumah panggung. Diantara
rumah yang dibangun terdapat rumah umum dimana ru
tempat berkumpul komunitas adat dari setia
banua yang dikemudian hari menjadi rumah raja atau istana
dinamakan Bale Lawo.
Menjelang berakhirnya pemerintahan k
sentuhan eropa dari segi kekuatan konstruksi tetapi tetap mempertahankan
keaslian model. Rumah sangihe berdasarkan catatan D.Brilman adalah :
80
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
rancangan Alffian walukow
atau kamar. Sejak masuknya
karang yang dibakar. Di masa
olonial thn 1800 orang sangihe sudah
nggunakan Rumah ikat terakhir ditemukan
rumah tersebut adalah
setiap persekutuan hukum adat terkecil
istana. Rumah tersebut
g kolonial belanda, bale lawo mendapat
Rumah
akar. ng mah olonial RumahKEBUDAYAAN
SANGIHE
rumah dibangun diatas tiang tinggi, memiliki tangga ma
diangkat pada waktu malam hari
satu bilik tinggal yang sama luasnya dengan serambi umum.
kana terdapat bilik tidur yang dipisahkan oleh dinding kayu,bamboo at
Jika salah satu anggota keluarga menikah maka rumah akan disambung
dibagian belakang. Semakin banyak yang menikah maka akan semakin panjang
rumahnya. Rumah seperti ini ditempati oleh 25 sampai 30 rumah tangga.
Konstruksi rumah sperti ini terakhir ditemukan di pulau
rumah asli orang sangihe mengalami pemusnahan akibat letusan gunung api.
Konstruksi rumah panjang berdasarkan catatan D.Brilman dan di rekonstruksi
ulang oleh alffian walukow
Konstruksi rumah beton dimasa awal kolonial (sesudah VOC)
81
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
masuk kerumah yang
hari. Terdapat satu serambi umum yang luas dan
Disebelah kiri dan
atau tirai.
umah pulau-pulau Nanusa. Banyak
au
KEBUDAYAAN SANGIHE
Rumah tua di Tamako berumur lebih dari 100 tahun
Rumah tua di Laine diresmikan 11
82
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
11-6-1930
KEBUDAYAAN SANGIHE
Peresmian rumah tahun 1925
C. Bale Lawo.
Bale lawo atau istana adalah rumah untuk banyak orang. Rumah ini
didirikan sebagai tempat pertemuan masyarakat umum pada satu kesatuan
hukum dalam komunitas adat sangihe
tinggal raja. Balelawo pertama kali di
Gambar bale lawo berdasarkan desain Mr. K.G.F. Steller
dan diadaptasi oleh Alffian walukow.
83
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
di Naha oleh boki kerajaan Tabukan
dengan sang raja sekaligus sebagai tempat
didirikan oleh Balango di sahabe.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tampak depan
Tampak samping
Tampak utuh / perspektif miring
84
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
85
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
D. Makanan tradisonal
a. Makanan umum
Makanan utama suku sangihe adalah sagu, yang diproduksi dari
jenis pohon palm. Di pulau sangihe terdapat berbagai jenis palm
diantaranya adalah : Arena tau enau ( Arenga pinnata ), pinang sirih (asal
philiphina), Pinang kelapa ( Actinorhytis calapparia),Sagu rumbia
(Metroxylan sagu), Kelapa (cocos nucifera), rotan sega (calamus caesius),
sarai raja (caryota no), Sarai midi (caryota maxima), palm kuning dan merah
endemic sangihe. Melihat bentuknya, pohon yang memproduksi sagu
disangihe adalah Sagu (Metroxylan sagu), sarai raja (caryota no) dan Sarai
midi (caryota maxima).
Selain mengkonsumsi sagu, masyarakat sangihe juga mengenal
adanya beras yang diproduksi dari ladang kering. Selain sagu dan beras,
makanan khas sangihe adalah singkong (sangihe = bungkahe),umbi jalar
(sangihe ; ima atau batata) dan talas (sangihe = kole ). Setiap hari orang
sangihe memproduksi sagu dalam jumlah yang banyak. Tempat untuk
memproduksi sagu disebut pamangkonang. Sayuran utama orang sangihe
adalah Sakede (daun melinjo), sayur paku,sayur gedi dan sayur wori. Ikan
laut merupakan lauk utama ditambah daging babi (untuk yang Kristen)
dan daging kambing (untuk yang muslim).
Pada awalnya orang sangihe tidak memakan daging
tikus,anjing,kelelawar,ular dan biawak, tetapi sejak masuknya orang
Minahasa di kelp. Sangihe maka mulailah orang sangihe mengkonsumsinya.
Diantara makanan yang sering dikonsumsi, resep tertua adalah ketupat
kuning, ikan laut bakar,sagu bakar dan kuah sasi ( kuah yang di campur
dengan ikan laut bakar). Resep makanan yang dominan sampai saat ini
adalah Sagu bakar,ubi rebus, dipadu dengan sayur santan dan ikan laut
bakar. Untuk pesta atau acara yang menghadirkan banyak orang selalu
disiapkan ketupat.
86
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Orang sangihe mengenal nasi yang dibungkus sejak berakhir masa
kepercayan sundeng. Pada awalnya, ketupat atau empihise menjadi bagian
dari sesajen dalam upacara persembahan yang menggantikan kedudukan
manusia dan hewan sebagai korban. Ketupat yang diwajibkan dalam sajen
adalah ketupat dengan nama bebatung kambing.
Orang sangihe mengenal 16 jenis ketupat berdasarkan teknik
anyaman yaitu : bawatung, muntia, dokongmanu, buang tariang, kaemba,
bituing,bebatun kambing, kasumbure, bininta, pikang, sawaku, mehisa,
waliung, batung kapese dan kalemba. Ketupat kalemba adalah ketupat
yang paling penting dalam upacara keagamaan masa lalu.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Jenis-jenis ketupat sangihe.
b. Tamo.
Berdasarkan cerita lisan,
perkawinan Mangulundagho dengan Bangsang peliang di Bongko
lumenehe (Kampung dagho sekarang) tamo
macam makanan yang kemudian disebut Golopung (
Makamea,prospek budaya dan tradisi
sangihe dan talaud-2008
Pembuatan Tamo kedua
acara perkawinan Makaampo.
adalah makanan tradisional khas sangihe yang tidak dapat ditemukan
ditempat lain. Tamo adalah makanan yang memiliki filosofi khusus
yang berhubungan dengan kehidupan orang sangihe sejak nenek
moyang. Filosofi utama dari Tamo adalah “
dalam adat sangihe. Tamo adalah bentuk makanan yang memiliki latar
belakang cerita kehidupan mula
Berdasarkan sastera lisan
tamo pertama kali digunakan
Tabukan raya yaitu
wangsang peliang di dagho. (
hanya disajikan dalam acara yang menghadirkan banyak orang. Karena
berdasarkan tradisi bahwa tamo yang dibuat harus habis dimakan.
Tamo juga sebagai perlambang
diletakan tamo pada
memasuki pesta tersebut.
dari kebersamaan. Kehadiran tamo dalam satu acara mewakili semua
makanan yang ada. Tamo adalah makanan yang paling istimew
diantara makanan yang ada, untuk itu tamo harus diletakkan di
87
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
Tamo pertama kali dibuat pada pesta
dibuat dari bermacam
Gideon
tradisi-tradisi historis daerah kab.kepl.
2008).
oleh Talongkati (bibi dari Makaampo) pada
(Toponimi,cerita dan…….2006). Tamo
Jawaban dan kehormatan”
mula-mula disangihe.
umum di beberapa wilayah sangihe
bersamaan dengan keberadaan kerajaan
pada pesta perkawinan mangulundagho dengan
kampung dagho sekarang). Biasanya, tamo
undangan. Jika sebuah pesta sudah
posisinya maka semua warga boleh hadir dan
Dari latar cerita ini maka tamo adalah bagian
istimewah
ormatan”
sangihe,
ah
88
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
tempat yang sangat khusus. Dengan syarat dapat dilihat oleh semua
orang yang hadir dalam acara.
Resep tamo tua adalah campuran dari beras,umbi-umbian,gula,
minyak kelapa, tetapi resep ini tidak bertahan lama karena mudah
basi. Pada saat ini resep tamo terdiri dari beras,gula dan minyak
kelapa. Untuk membuat tamo harus melewati beberapa ketentuan adat
diantaranya, orang yang akan memasak tidak sedang dalam keadaan
bertengkar sebelum sampai ke dapur, tempat untuk meletakan kuwali
harus menggunakan 3 batu sebagai tungku. Karena sakralnya kue ini
maka minyak yang menetes dari cetakan tamo selalu disimpan
sebagai minyak yg berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.
Bagian terpenting dalam pembuatan tamo adalah ritual “memoto
tamo” (memotong tamo). Sebelum memotong tamo, orang yang
ditugaskan untuk memotong tamo harus menyampaikan sasalamate
yang dinamakan sasalamate tamo. Isi dari sasalamate tamo adalah
berkisah tentang tamo itu sendiri dan pesan atau nasehat tentang
kebaikan kepada banyak orang. Sebagai sebuah makanan yang
istimewah maka dimasa lalu tamo harus dibungkus dan tidak terlihat.
Tamo, pertama kali dikenal dalam satu pesta perkawinan putri
seorang raja dikerajaan Tabukan Tua. Pesta perkawinan itu terjadi
sesudah berdirinya Kerajaan Tampungang Lawo, 400 tahun silam
atau sesudah keruntuhan Majapahit. Pada masa lalu Tamo memiliki
dua spesifikasi dari bentuk dan kegunaannya yaitu Tamo Boki
berwarna putih dan Tamo Coklat seperti yang masih dibuat sampai
saat ini ( Drs. Bahagia Diamanis Sarjana Sejarah IKIP Negeri
Manado,wawancara 2006)
Filosofi terpenting dari Tamo adalah Mengundang masyarakat
banyak untuk datang dalam satu pertemuan. Masyarakat dari
kalangan manapun boleh datang dalam satu hajatan atau acara
syukuran tanpa diundang apabila didalam acara tersebut sudah
terlihat Tamo.( Pernyataan Bapak Manossoh Ketua Dewan adat
Sangihe dan bapak Mehare dalam satu percakapan menjelang
pembuatan Tamo Raksasa di Kantor Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Sangihe, 2006)
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tamo bukanlah status sosial tetapi pada akhirnya Tamo
berubah kedudukan dan penggunaannya dalam acara
atau syukuran. Dikemudian hari Tamo menjadi bagian
sosial masyarakat. Hal ini terbukti dengan ditempatkannya Tamo
pada acara-acara yang sangat khusus seperti acara
diadakan oleh pimpinan daerah atau acara
khusus seperti pesta pernikahan adat dan modern. Sampai
belum pernah masyarakat sangihe membuat Kue Tamo sebagai
jualan dipasar atau sebagai makanan harian. Begitu sakralnya kue
adat Tamo sehingga terungkap satu pernyataan lain yang
mengatakan bahwa kue adat Tamo harus dibungkus dengan penutup
yang tidak tembus pandang, karena berdasarkan kebiasaan bahwa
kue Tamo itu Laksana seorang wanita cantik yang sangat terhormat.(
pernyataan Hengky Natingkase S.Ip. Tokoh pemuda
Berdasarkan kesepakatan antara pemuka adat Sangihe dala
dewan adat bahwa tida
pucuk Tamo. Dengan alasan bahwa tidak ada semangat bendera
merah putih dalam kue a
tahun sebelum Indonesia
Mehare,anggota dewan adat dalam pembicaraan t
Raksasa di Kantor Disparbud Sangihe
Setelah selesai diolah maka tamo siap di cetak dalam sebuah
cetakan dari bahan alami yaitu
89
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
acara-acara hajatan
dari status
acara-acara yang
acara-acara lain yang sangat
esta saat ini
idak pemuda,2006 )
tidak boleh lagi menggunakan bendera pada
adat Tamo karena Tamo sudah ada ratusan
Merdeka. ( pernyataan bapak
hare,tentang Tamo
Sangihe,2006)
bulu.
Cetakan tamo
cara ain dalam
atusan
entang
90
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
1. Konstruksi tamo
Tamo memiliki unsur utama yaitu badan tamo, ditambah asesoris
pada badan tamo berupa udang (dimasa lalu) dibagian dasar diletakan
bermacam – macam makanan khas sangihe.Pada mulanya dibagian
pucuk tamo diletakan telur yang melambangkan kehidupan baru (sesuai
dengan cerita manusia mula-mula dalam cerita gumansalangi) Sesudah
perang kemerdekaan maka symbol telur diganti dengan bendera negara
merah putih, tahun 20006 tidak lagi menggunakan bendera pada pucuk
tetapi bunga atau telur.
Model rancangan tamo karya Bpk. Yakob, imam mesjid Islam tua
Kampung Lenganeng dan tata rias oleh Alffian Walukow.
KEBUDAYAAN SANGIHE
Tamo “Raksasa” setinggi 4,5 meter, rancangan
Alffian walukow,2006
91
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
92
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB – VIII
BAHASA DAN SASTERA SANGIHE
A. Bahasa Sangihe
Penggalian bahasa sangihe pernah dilakukan oleh J.N.Snedon dalam buku
Proto Sangiric and the sangiric languages. Bahasa sangihe termasuk rumpun
bahasa Austronesia atau Melayu Polynesia dan tergolong dalam bahasa-bahasa
Philliphina. Ahli tata bahasa sangihe yang terkenal adalah Dr. N. Adriani
dengan karyanya Sangirische sprakunts. Kosa kata bahasa sangihe yang telah
dibukukan dapat ditemui dalam buku karya dari Mr.K.G.F. Steller dan W.E.
Aerbersol dengan judul Sangirische Nederlands woerdenbock. ( Decroly
Juda,Spd.Tata Bahasa Sangihe,2004).
Bahasa sangihe tidak mempunyai aksara, karena suku sangihe tidak
mengenal sistim tulisan sendiri. Sejak masuknya bangsa Eropa, orang
sangihe sudah mulai menggunakan huruf latin sebagai bentuk tulisan.
Pengguna bahasa sangihe meliputi Pulau Sangihe besar dan pulau-pulau kecil
disekitarnya,Pulau siau dan sekitarnya,Pulau Taghulandang dan
sekitarnya,Pulau Talaud dan pulau – pulau diperbatasan utara Indonesia.
Beberapa daerah disekitar Minahasa seperti Belang, Bantik,Manado tua,
Bunaken, Naenk, Siladeng, Mentehage, Gangga, Bangka, Talise, Likupang,
Lembe, Sebagian Bitung, daerah dikaki Gunung klabat. Pulau balut dan Pulau
saranggani di Philliphina ( H. Kern dalam Tata bahasa Sangihe, Decroly
Juda,2004). Bahasa sangihe dan bahasa lain di Sulawesi utara memiliki
kesamaan tipe yaitu Aglutinered ( bahasa yang berafiks ).
Afiks adalah unsur yang ditambahkan pada kata dasar atau bentuk asal
( Daryanto, S.S, Kamus bahasa Indonesia lengkap,1997).
Bahasa Sangihe terbagi dalam 8 dialek yaitu :
1. Dialek Tabukan
2. Dialek Tahuna
3. Dialek Kendahe
4. Kolongan
5. Manganitu
6. Tamako
7. Siau
8. Taghulandang
KEBUDAYAAN SANGIHE
(Bawolle, 1981 dalam Prof. A.B.G.Ratu
Minahasa)
Secara umum, bahasa sangihe hanya memiliki tiga
Sangihe di Pulau Sangihe,dialek Siau di Pulau Siau dan d
di Pulau Taghulandang. Pengguna b
berjumlah seratus ribu orang ( Profil Kebudayaan Minahasa
Mongondow, pengguna bahasa sangihe meliputi beberapa daerah seperti
Pedukuhan Dodap kecamatan Kotabunan,
Sang Tombolang, Bintauna, Mokoditek kec Bolangintang.
Bolaang Mongondow 1984)
Dalam ilmu Bahasa, huruf adalah perlambang bunyi, untuk menulis
aksara sangihe terdiri dari 18 aksara
B. Sastra Sangihe
Suku Sangihe dimasa lalu tidak mengenal sastra dalam bentuk tulisan
tetapi memiliki banyak sastra lisan. Sastera dalam kehidupan orang sangihe
memiliki makna yang sangat mendalam. Boleh dikata bahwa hidup orang
sangihe mengalir bersamaan dengan sastra lisan, menjadi bagian dari jiwa,dan
menjadi pedoman kehidupan bermasyarakat.
melahirkan aturan terhadap tatanan
Sastra lisan Sangihe sudah ditulis oleh beberapa orang dari Belanda
terutama para Zending dan pekerja gereja, tapi sampai saat ini buku
tersebut tidak pernah ditemukan.
– masing berdasarkan bentuknya. Dalam penulisan ini, penulis mencoba
memaparkan secara singkat beberapa bentuk sastra dan hasil karya sastra dari
beberapa penggalian yang sudah terinfentarisasi.
93
- ALFFIAN WALUKOW - 2009
- Bahasa di Minahasa,Profil Kebudayaan
dialek yaitu dialek
alek dialek Taghulandang
bahasa Sangihe di Minahasa diperkirakan
1997). Di Bolaang
Poigar, Kecamatan Lolak, Pangi kec.
( Sastera Lisan
latin yaitu :
(Decroly Juda,S.Pd,tata bahasa Sangihe,2004
Satra sangihe di masa lalu telah
hidup.
buku-buku
Sastra lisan sangihe memiliki fungsi masing
sarkan lek
ialek akan
2004).
94
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Salah satu hal yang mempersulit penginfentarisasian dan
pengembangan sastra lisan sangihe adalah ;
1. Kebanyakan dari penutur cerita sudah lanjut usia sehingga
memungkinkan punahnya sastera lisan.
2. Banyak orang yang memiliki kemampuan menuturkan sastera lisan
tidak mau membagikannya kepada orang lain, menganggap bahwa
cerita yang dimiliki adalah milik keluarga.
3. Tidak adanya sistim pewarisan secara umum. Pewarisan sastera lisan
hanya kepada orang - orang tertentu.
4. Banyak cerita lisan yang sudah di tulis oleh beberapa pemerhati
sejarah dalam bentuk tulisan lepas selalu disembunyikan.
5. Tidak adanya kepedulian pemerintah dan pihak terkait untuk
mengadakan penggalian sastera lisan sedalam mungkin dan kemudian
membukukannya secara lengkap.
Hal-hal yang memperkuat tradisi lisan disangihe sehingga mampu
bertahan adalah keutuhan bahasa sangihe, dan merupakan bagian dari adat
istiadat. Bahasa sangihe digunakan oleh suku sangihe yang hanya
menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Sangihe. Dalam kehidupan seharihari,
bahasa Sangihe mengenal stratifikasi dalam penggunaannya yaitu
pembedaan usia lawan bicara. Bahasa sangihe terbagi dari dua bagian
berdasarkan penggunaannya dalam aktifitas berbudaya dan bermasyrakat
yaitu : Bahasa sangihe sehari-hari dan Bahasa Sangihe sastra yang
disebut bahasa sasahara.
Sastra lisan sangihe digolongkan dalam beberapa bentuk yaitu :
1. Cerita, berupa hikayat raja-raja dan sejarah kerajaan, cerita rakyat
dan dongeng, silsilah raja-raja dan silsilah keluarga.
2. Prosa
3. Puisi
4. Me,bowo
5. Ungkapan
95
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
a. Hikayat raja-raja
Sejak masa lalu di Sangihe telah berkembang sastera lisan yang
menceritakan kehidupan raja-raja sangihe seperti :
- Cerita Raja Gumansalangi dan Putri Konda asa.
Gumansalangi adalah laki-laki yang datang dari luar kepulauan
sangihe yang kemudian bertemu dengan Putri Konda asa atau
Sangiang Konda Wulaeng. Dari pertemuan dua tokoh tersebut
melahirkan sistim kerajaan di kepulauan sangihe.
- Cerita Raja Syam Syach Alam dari kerajaan Kendahe yang
bersetubuh dengan anaknya sendiri putri Bulaeng Tanding yang
mengakibatkan hancurnya Tanjung Maselihe. Dari peristiwa
tersebut telah melahirkan suku baru yang disebut suku Bantik.
- Cerita Raja Makaampo yang perkasa dan kejam. Makaampo adalah
raja yang memiliki banyak isteri. Pernah megadakan ekspansi
sampai ke daratan Minahasa dan beberapa kali menghancurkan
pasukan bajak laut dari Mindanao. Karena perilaku tersebut
akhirnya dikhianati dan dibunuh oleh pengawalnya sendiri bernama
Ambala yang bersekutu dengan Hengkeng ‘u naung panglima laut
dari kerajaan Siau.
- Cerita kepahlawanan Raja Bataha Santiago yang tidak mau tunduk
pada kekuasaan VOC. Akhirnya dia dihukum mati pada tiang
gantungan oleh Sultan Kaitjil Sibori (Prins Amsterdam, sultan
Ternate yang diangkat oleh VOC), atas perintah Robertus
Pardbrugge (Gubernur VOC). Kematian Santiago adalah hasil dari
pengkhianatan temannya sendiri bernama Sasebohe dan
Bowohanggima.
Disamping cerita tentang raja-raja terdapat juga cerita
kepahlawanan para pemberani Sangihe yang disebut Bahaning Beo’e.
Dari sekian banyak cerita kepahlawanan terdapat beberapa cerita
yang melegenda didaerah dimana cerita itu diceritakan seperti : Cerita
tentang Panglima laut Hengkeng’u naung dari kerajaan Siau. Cerita
tentang Ambala pemberani dari Tamako.
96
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
b. Cerita rakyat dan dongeng.
Ada beberapa cerita rakyat dan dongeng yang sering diceritakan
seperti :
- Cerita Angsuang bake, raksasa penguasa gunung awu yang marah
dan mengakibatkan lahirnya gunung api Awu.
- Cerita percintaan Sese Madunde dengan seorang bidadari yang
kemudian melahirkan pulau siau.
- Cerita upung wuala. Seekor siluman buaya yang hidup di Laine.
Jika pemberian yang ia minta tidak diberikan maka siluman
buaya akan marah lalu memakan korban manusia. Upung wuala
setiap saat selalu melakukan perjalanan dari Laine ke Salurang
berjalan tegak seperti manusia dan menggunakan iakat kepala
merah.
- Cerita percintaan Bangkoang dengan seorang putri dari ulung
peliang berna le’ku dari Tamako,Dari percintaan tersebut
melahirkan perkelahian dengan Bahede..
c. Prosa
Sastera lisan sangihe yag di golongkan sebagai prosa adalah
Sasalamate. Prosa adalah suatu bentuk penulisan cerita yang disusun
dengan bahasa puisi.
Sasalamate adalah : puisi bebas yang disusun dari bahasa sastra
sangihe dan ungkapan-ungkapan sasahara yang biasanya dibawakan
pada upacara adat tertentu,guna keselamatan bagi orang yang
berkepentingan dengan acara itu. (Gideon Makamea,Mempelajari
ungkapan dan sastera daerah, Sangihe I kekendage,2003)
d. Puisi
Kesusastraan Indonesia membagi puisi dalam dua jenis yaitu
puisi lama dan puisi baru. Karya sastra lisan Sangihe yang
digolongkan sebagai puisi termasuk dalam puisi lama yaitu : Pantun
(papantung,medenden), Teka-teki (tinggung-tinggung atau tatinggung)
dan mantra ( orang yang ber mantera disebut makalanto). Dari tiga
bentuk puisi sangihe yang paling banyak perbendaharaannya adalah
Mantra.
Sampai saat ini masih banyak mantra yang dapat diinfentarisir
dari penduduk sangihe. Perkembangan mantera di kepl. Sangihe
97
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
melalui dua periode yaitu Penggunaan mantra dimasa sebelum Islam
dan di masa sesudah Islam. Salah satu kata inti pada mantra
sebelum masuknya Islam adalah kata ruata, sesudah islam masuk
muncul penggunaan kata bismillah.
Mantera sangihe digolongkan menjadi beberapa bagian
berdasarkan fungsinya yaitu :
- Mantra untuk membunuh orang yang masih hidup.
- Mantra untuk menghidupkan orang mati.
- Mantra untuk membuat sakit orang yang sehat
- Mantra untuk menyembuhkan orang sakit
- Mantra untuk membuat orang terpikat
- Mantra untuk keselamatan diri.
- Mantra untuk menangkal mantra
- Mantra untuk kesaktian seseorang.
- Mantera yang berhubungan dengan gejala alam seperti menurunkan
hujan,menghilangkan hujan,mengusir badai dilaut.
e. Bawowo
Dari sekian banyak sastera lisan di sangihe terdapat satu bentuk
sastera lisan tertua yang disebut Me,bowo atau Bawowo. Bawowo
adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang tua menggunakan
syair-sayir indah, bernada seperti nyanyian. Bentuk sastera ini disajikan
pada saat menidurkan anak. Isi bawowo terdiri dari satu kalimat.
Contoh bawowo :
kawowo inang kawowo,ana nitendengi lawo,suhiwang
takahalaweng,takaendengangu apa.
Artinya : Sayang si manis saying anak dimanja orang banyak, di
pangkuan yang dibentengi tidak akan mengapa.
(Gideon Makamea,Mempelajari ungkapan dan sastera daerah, Sangihe I
kekendage,2003)
98
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
f. Ungkapan
Ungkapan sangihe memiliki kedudukan penting dalam
semua satera lisan sangihe. Hampir semua bentuk
sastera lisan sangihe memuat ungkapan. Pada umunya
Ungkapan sangihe berfungsi sebagai nasehat, peraturan
dan motifasi hidup.
Contoh ungkapan sangihe yang paling dikenal yaitu :
- Somahe kai kehage
- Mekaraki pato tumondo mapia, kaeng balang sengkahindo
- I akang ganting gaghurang
- Nusa kumbahang katumpaeng.
99
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BAB IX
KERAJAAN DI SANGIHE
Sangihe sudah mengenal sistim pemerintahan dalam kehidupan
bermasyarakat dengan bentuk pemerintahan kerajaan. Sistim pemerintahan
kerajaan yang dianut oleh kerajaan-kerajaan di sangihe merupakan bawaan dari
sistim pemerintahan kesultanan yang ada di Philiphina. Kerajaan mula-mula di
bangun atas dasar kemonarkian atau wangsa, monarki artinya dipimpim oleh satu
orang. Kepemimpinan kerajaan dilakukan oleh satu keluarga yang menurun
keanak cucu, berdasarkan garis keturunan laki-laki.
Diakhir kekuasaan kerajaan Tampungag Lawo, muncullah para kulano dan
Bahaning. Sejak saat itu kedudukan raja diambil alih oleh pemberani, dalam
bahasa sangihe di sebut Kulano atau Bahaning beo’ e. (di kepulauan Maluku,
Kulano adalah raja).
Jika dilihat dari kata “Tampungang Lawo” secara luas berarti tempat
dimana terhimpun banyak orang, menunjukkan sebuah demokratisasi telah
dibangun sejak kerajaan tua. Meskipun kekuasaan raja-raja berdasarkan wangsa
tetapi harus menghadirkan banyak orang dalam setiap keputusan. Perubahan sistim
sosial kekerabatan masyarakat sangihe mengalami beberapa perubahan mulai dari
sistim Patrilineal sejak Gumansalangi Sampai ke Makaampo, sistim bilateral sejak
awal kerajaan Tabukan sampai masa kolonial belanda awal tahun 1800.Tetapi ada
satu masa bersamaan dengan pengaruh kuasa ampuang – ampuang perempuan,
sangihe pernah menganut sistim kekerabatan Matrilineal yang mengikuti garis
keturunan Ibu. Meskipun sistim kekerabatan pernah berubah-ubah tetapi tanggung
jawab setiap keluarga batih ada pada gaghurang (orang tua) dimana suami ataupun
isteri bertanggungjawab bersama dalam keluarga. Diperkirakan sistim kekerabatan
dengan mengikuti garis keturunan ayah (patrilineal) mulai berlaku sejak ada
pengaruh eropa di sangihe.
Penggunaan marga atau fam mulai berlaku sejak diberlakukannya hukum
atas tanah. Banyak tanah disangihe yang tidak bertuan. Hal ini dipengaruh olah
sistim perbudakan dan kekuasaan raja yang mutlak dimasa lalu sampai kemudian
muncul tanah-tanah family. (di Minahasa dikenal dengan tanah Kalakeran).
Masyarakat sangihe hanya mengenal tanah family berdasarkan marga keturunan,
tanah family kerajaan dan tanah – tanah bebas (tidak bertuan).
100
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Tingkatan sosial masyarakat sangihe menurut D. Brillman adalah :
1. Bangsawan, terdiri dari raja-raja, jogugu dan keluarganya.
2. Warga-warga yang bebas
3. Budak yang dimerdekakan
4. Para budak.
Keturunan raja termasuk dalam golongan hokowalumpulo, keturunan
bangsawan termasuk dalam golongan hokolimampulo, rakyat biasa termasuk dalam
golongan hokotalumpulo, budak digolongkan sebagai allangga. Struktur
pemerintahan kerajan sangihe adalah :Tingkatan paling tinggi raja yang disebut
datu.Tingkatan kedua adalah bobato pimpinan daerah dibawah kerajaan atau
setingkat dengan adipati. (adipati adalah jabatan setingkat bupati dalam tradisi
jawa). Tingakatan ke tiga Opo Lao atau Kapiten Laut (ensiklopedia Indonesia)
Struktur pemerintahan kerajaan di sangihe pada masa VOC, mulai dari yang
tertinggi sampai yang terendah.
1. Raja yang disebut datu
2. Bobato (termasuk presidenti raja /pejabat raja sementara)
3. Jogugu
4. Presidensi Jogugu (bila diperlukan)
5. Kapiten laut (laksamana)
6. Mayore (Mayore gaguwa atau Mayore labo)
7. Hukum Mayore
8. Sadaha
9. Kapita
10. Sangaji
11. Kumelaha
12. Sawehi (dukun)
13. Mihinu ( Tukang palakat)
( A. Horohiung dalam buku Santiago melawan VOC,1990)
101
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Kekuasaan raja – raja di sangihe mengalami beberapa bentuk
pemerintahan yaitu : pemerintahan raja-raja asli sangihe berdasarkan wangsa/
keturunan yang terwaris dalam keluarga, pemerintahan raja-raja sangihe
berdasarkan pengaruh Spanyol dan portugis, pemerintahan raja-raja sangihe
berdasarkan pengaruh VOC dan pemerintahan colonial hindia belanda,
pemerintahan raja-raja sangihe berdasarkan pengangkatan penguasa
jepang.Sebelum pengistilahan raja digunakan dalam sistim pemerintahan
kerajaan sangihe, sudah didahului penggunaan kata datu’ untuk kedudukan
raja. Pengistilahan ini hadir bersamaan waktunya dengan kerajaan mula-mula
di wilayah kepulauan sangihe yang disebut Kedatuan.Wilayah kepulauan
sangihe mulai dari pulau-pulau di sekitar Kepulauan Saranggani
Philiphina,kepulauan Talaud,kepulauan Sangihe,kepulauan Siau dan
Taghulandang, dan pulau-pulau yang ada disekitar jazirah Minahasa. Kerajaan
sangihe melewati masa pemerintahan panjang mulai dari kekuasaan dinasty
Gumansalangi yang berakhir pada masa VOC.
A. Masa kedatuan tua
Kerajaan yang mula- mula berdiri di wilayah teritorial sangihe
dikelompokan dalam masa kedatuan, karena pada saat itu istilah Datu
digunakan untuk pimpinan tertinggi kerajaan.Kedatuan tua yang berdiri mula –
mula adalah sebagai berikut.
a. Kedatuan Bowontehu.
Bowontehu diambil dari bahasa sangihe Bowongkehu yang secara harafiah
berarti diatas atau dipuncak hutan. Wilayah kerajaan ini adalah salah satu
dari 10 lanskap (kerajaan kecil) yang diserahkan oleh sultan Ternate kepada
VOC bersama dengan kerajaan Tubuguo (Tabukan) tahun 1609. (Sejarah
Minahasa, Kontrak 10 Januari 1679, hal.61). Berdasarkan sastera lisan
sangihe, kerajaan ini didirikan oleh datu Mokodoludugh yang oleh orang
Mongondow disebut Mokoduluduth pada abad ke - X. Kerajaan ini
dianggap sebagai kerajaan tertua yang menjadi bagian dari wilayah
territorial sangihe. Mokodoludugh memperisteri Baunia dan memperanakan
Lokongbanua, Yayukbongkai, Uringsangiang dan Sinangiang.Lokongbanua
kemudian menjadi Raja kerajaan Siau Pertama.Bowontehu pada masa
kekuasaan raja Pasibori (sultan dari ternate), ditaklukan oleh raja dari
kerajaan Bolaang bernama Damopolii (kinalang). (sejarah kerajaan
Mongondow,Tabloid Media Edukasi, Nov.2009)Kedatuan Tampungang
lawo.Didirikan pada kurun waktu tahun 1300 M (dijelaskan
dalam sejarah kerajaan tampungan lawo).
102
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
1. Kedatuan Tampungang Lawo
Kedatuan Tampungan Lawo sudah melegenda karena diceritakan
secara turun-temurun oleh orang sangihe sebagai sastera lisan, baik
itu melalui sasalamate,papantung,tatinggung ataupun lagu-lagu
masamper. Tampungang lawo merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari sejarah sangihe, meskipun belum ditemukan bukti
berupa benda sejarah yang berhubungan dengan kerajaan Tampungang
Lawo.
Kedatuan Tampungang Lawo pertama
Konon, Kedatuan Tampungang Lawo didirikan oleh
Gumansalangi pada tahun 1300 sampai 1400 yang berpusat di Manuwo
,kini disebut kampung Salurang. Diperkirakan masa Gumansalangi
dimulai akhir tahun 1200 sampai awal tahun 1300. Pada masa ini
dimulailah sistim pemerintahan monarkih kerajaan pertama Sangihe.
Gumansalangi yang memperisteri Sangiang Konda Wulaeng
memperanakan Melintangnusa dan Melikunusa. (D.B. Adrian
“Renungan kisah Sangihe Talaud” dalam Toponimi,cerita rakyat dan
sejarah dari kawasan Nusa utara,Diknas Tahuna).
Wilayah kekuasaan kerajaan Tampungang Lawo membentang
dari Mindanao sampai ke Bolaang Mongondow. Panglima perang
kerajaan Tampungan lawo adalah Melintangnusa yang memperisteri
Sangiang Hiabe puteri Abubakar (seorang pemberani dari Tugis,
Philliphina). Melikunusa berlayar ke wilayah Mongondow dan
mempersunting Menong Sangiang.
Gumansalangi mewariskan kerajaan pada anaknya
Melintangnusa tahun 1350. Menjelang akhir hidup Melintangnusa
berlayar ke Mindanao dan meninggal disana. Sejak meninggalnya
Melintangnusa, kerajan diserahkan kepada anaknya Bulegalangi dan
Pahawonseke. Sejak saat itu pusat kerajaan terbagi dua.
o Kerajaan Tampungang lawo dengan pusat kerajaan di Sahabe
o Kerajaan Tampungang lawo dengan pusat kerajaan di Salurang.
Kekuasaan kerajaan yang berpusat di Salurang diserahkan
kepada anaknya bernama Bulegalangi. Dalam menjalankan
103
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
pemerintaha Bulegalangi dibantu oleh anaknya bernama Matandatu.
Saudara laki-laki Bulegalangi bernama Pahawongseke pindah ke Sahabe
(Tabukan Utara sekarang), dan membentuk pemerintahan baru.
Pemerintahan dibantu oleh anaknya Pangatorehe. Setelah raja
Bulegalangi meninggal, puterinya bernama Sitti Bai dipersunting oleh
Balanaung sedangkan Puteri Aholiba dipersunting oleh
Mengkangbanua dan berpindah tempat tinggal ke Tariang tebe
(sekarang kampung Tariang Lama).
Kedatuan Tampungan Lawo di Sahabe (1400-1530).
Kerajaan Tampungan lawo di Sahabe didirikan oleh Kulano
Pahawongseke (putra dari Melintangnusa). Pusat kerajaan adalah
Limu (dekat kedang atau sahabe behu). Kerajaan Tampungan lawo di
sahabe kemudian dikenal dengan nama kerajaan sahabe, juga
dinamakan kerajaan limu. Wilayah kekuasaannya dari tanjung
salimahe sampai ke tanjung lehe,termasuk pulau nusa,bukide, dan buang
(sekarang Tabukan tengah). Pahawongseke diganti oleh puteranya
Pangalorelu. Pangalorelu diganti oleh Mamatanusa. Mamatanusa
kemudian menjadi raja terakhir di kerajaan sahabe. Mamatanusa
memperisteri Neneukonda dan memperanakan dua orang puteri
bernama Somposehiwu dan Timbangsehiwu. ( Dari sumber cerita lisan
lain, Raja terakhir kerajaan Sahabe adalah Pontowuisang, yang
memperisteri Belisehiwu. Pontowuisang adalah raja siau yang
menyuruh Hengkengunaung untuk membunuh Makaampo).
Kedatuan Tampungang lawo di Salurang
(1400 – 1500 an )
Kerajaan ini didirikan oleh Kulano Bulegalangi (putra dari
Melintangnusa), yang berpusat di Salurang. Wilayah kekuasan
kerajaan Tampungang lawo di salurang mulai dari tanjung lehe ke
pungu watu, termasuk pulau-pulau marore, kawio, kemboleng, memanu,
matutuang, dan dumarehe. Pemerintahan Bulegalangi dibantu oleh
anaknya bernama Matandatu yang juga sebagai panglima
perang.Setelah wafatnya Bulegalangi, kekuasaan raja diganti oleh
puteranya Matandatu . Pemerintahan Matandatu dibantu oleh anakanaknya,
Makalupa, Ansiga, Tangkaliwutang dan saudara perempuan
mereka Talongkati. Talongkati adalah anak yang paling berani
sehingga mendapat gelar Bawu Mahaeng.
104
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Salah satu anak dari Matandatu bernama Tangkuliwutang
kemudian memperanakan Makaampo Wewengehe. Makaampo lahir pada
tahun 1510 di Rainis (Talaud) dari ayah bernama Tangkuliwutang dan
ibu bernama Nabuisang (dari Talaud). Nabuisang adalah anak dari
Saselabe (di taghulandang) dengan isterinya Putri Din (perempuan dari
bangsa jin). Makaampo dilahirkan kembar, dan kembarannya adalah
seekor ular bernama Uri Makaampo. Isteri pertama Makaampo adalah
Marinsai.( H.Juda “ Manga wĕkeng AsaĜ ‘u Tau Sangihĕ “).
Setelah dewasa makaampo memperisteri Marinsai orang
Bowongkalumpang anak dari Bolinsangiang, Makaampo meninggalkan
perempuan tersebut karena kedapatan berselingkuh dengan laki-laki
lain. Seterusnya Makaampo memperisteri Rampeluseke seorang
perempuan dari Salurang, kemudian memperisteri dua orang kakak
beradik Somposehiwu dan Timbangsehiwu. Sejak memperisteri
Somposehiwu dan Timbangsehiwu berakhir pula kerajaan Tampungan
lawo di salurang.
Latar belakang meluasnya wilayah kerajan Tampungang lawo
di salurang adalah sebagai berikut :
- Makalupa (anak dari Matandatu) mengambil Kindi Sangiang
sebagai isteri ketika Kindi Sangiang sedang melingkarkan kain
sehabis mandi, itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan
Pendarehokang. Setelah memperisteri Kindi Sangiang anak dari
Menentonau,( kulano di Kauhis) wilayah kekuasan Menentonau
yang meliputi Lelapide sampai ke Pendarehokang diserahkan
kepada anaknya Kindi Sangiang.
- Ansiga (anak dari Matandatu ) memperisteri Gaupang (Raupang)
anak dari Panglima perang Dagho bernama Ansaaralung.
Kekuasaan Ansaaralung di dagho yang meliputi Toade
manandu sampai ke pulau-pulau Mahengelang diserahkan kepada
anaknya Gaupang.
- Wilayah dari Toade manandu sampai ke Tanjung lelapide
termasuk Tamako diserahkan ke kerajaan Tampungang Lawo di
Salurang atas isin dari Kelungsanda panglima perang Tamako.
Isteri dari Kelungsanda adalah Taupangkonde. Taupangkonde
adalah saudara kandung dari Gaupang (isteri dari Ansiga)
105
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Kedatuan Tampungan Lawo kedua
(lahirnya Kerajaan Tabukan besar yang disebut Rimpulaeng ) .
Kedatuan Tampungang lawo yang dulunya terpisah
kemudian lenyap, dipersatukan lagi menjadi sebuah kedatuan
besar. Kedatuan ini didirikan pada tahun 1530 oleh Makaampo
Wewengehe yang berpusat di limu atau sahabe Behu di daerah
bekas pusat kedatuan Tampungan lawo Sahabe.
Wilayah kekuasaan kedatuan Tampungan lawo kedua
meliputi Tanjung Salimahe ke Pendarehokang sampai ke pulau
Marore, Mahengetang dan kepulauan Talaud. Pada masa
pemerintahan Makaampo Wewengehe di Sahabe Behe, dia
didampingi oleh permaisuri Sompo sehiwu. Sedangkan
permaisuri Sompo Sehiwu tinggal di Salurang.
Makaampo Wewengehe dikenal sebagai raja perkasa, yang
memerintah dengan kejam. Akibat kekejamannya itu dia
dibunuh oleh seorang pemberani dari Tamako bernama
Ambala yang bersekutu dengan panglima laut kerajaan Siau
bernama Hengkeng u’ naung di pantai Batu keti’ pada tahun
1575. Leher Makaampo dipotong dan kepalanya di antar ke
pehe - siau.Lalu kemudian di ambil oleh Ansiga dan Makalupa
dan dikuburkan di salurang. Makaampo adalah datu terakhir
kedatuan Tampungang Lawo yang mendirikan dasar atas
kerajaan Tampungang lawo baru dengan nama Tabukan.
Setelah Makaampo meninggal, kedudukan datu diganti oleh
anaknya Wuateng Sembah. Sejak saat itu mulai dikenal kerajaan
Tabukan yang berpusat di Salurang.
b. Kedatuan Mangsohowang. Wilayah kedatuan ini berada di kaki gunung
awu, pulau sangihe. Kedatuan ini hilang akibat letusan gunung api awu.
c. Kedatuan Karangetang. Kedudukan kedatuan ini berada di pulau Siau.
Didirikan oleh pangeran Kedatuan Bowontehu bernama Lokongbanua.
Lokongbanua adalah anak tertua dari Mokodaludugh yang lahir di gunung
Lokon. Kekuasaan Lokongbanua atas kedatuan Karangetang berlaku pada
tahun 1510 – 1540 (meninggal). Pusat pemerintahannya di Katutungang
(sekarang bernama Paseng). Lokongbanua memperanakan Passuma dan
Angkumang.
106
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
B. Masa Sesudah kedatuan ( masa awal hubungan Eropa dengan kepulauan
Sangihe)
Pada masa ini semakain nyata keberadaan bangsa Eropa di daerah utara
Nusantara. Kerajaan - kerajaan di sangihe pada waktu itu mengalami
berbagai situasi dan tekanan akibat perebutan wilayah kekuasaan oleh
Kerajaan – kerajaan dari Eropa.
- Portugis berhubungan dengan Sangihe sejak tahun 1563.
Tahun 1563, Raja Siau bernama Possuma dibaptis di Manado oleh Pater
Diego de Magelhaes dari Portugis. Sejak saat itu terbukalah hubungan
portugis dengan Kepl. Sangihe Talaud.
- Spanyol menguasai Sangihe pada tahun 1565.
Hubungan Spanyol dengan Kepulauan Sangihe sudah dimulai
tahun 1521. Gugusan kepulauan Philliphina yang bertetangga telah
diduduki Spanyol tahun 1565, pada saat itu raja yang berkuasa di
kerajaan Siau adalah Raja Jeronimo.
- VOC berdiri tahun 1602 dan memulai kekuasaannya di sangihe tahun
1677.
Pada tanggal 1 November 1677, Raja Amsterdam dari Ternate (
Kaitjil Sibori ) merebut benteng Spanyol “Sancta Rosa” di Siau dan
menyerahkannya pada Gubernur Jenderal Robertus Paddbrugge atas nama
VOC. Pada saat itu pula ditandatangani perjanjian antara VOC dengan
Raja Siau Franciscus Xaverius Batahi. Perjanjian yang sama juga
berlaku terhadap kerajaan Tabukan,Tahuna dan Kendahe dan
Taghulandang.
- Pembubaran VOC tanggal 31 Desember 1799. Sejak saat itu
daerah kekuasaan VOC di ambil alih oleh Pemerintah Belanda,
tetapi kekuasaan VOC atas Sangihe nanti berakhir tahun 1789.
- Awal dimulainya pengaruh kekuasan pemerintahan hindia
Belanda di kepulauan sangihe yaitu pada tahun 1821 dengan
dikirimnya Zendeling J.C. Jungmichel dari Ambon oleh Pendeta
Joseph Kam.
Dari penjelasan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sejak tahun
1563, kerajaan – kerajaan disangihe sudah berhubungan dengan
Portugis,Spanyol dan VOC. Sejak tahun 1821 kekuasaan kerajaan
disangihe mulai di pengaruhi oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada
107
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
masa pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1821, sistim
pemerintahan kerajaan tidak lagi berdasarkan wangsa tetapi berdasarkan
kehendak Pemerintah Hindia Belanda.Pada masa itu di wilayah
teritorial Sangihe sudah ada keraajaan-kerajaan yang dipengaruhi oleh
Eropa. Kerajaan - kerajaan tersebut adalah :
Periode Pertama :
a. Kerajaan Manarou (Manado).
Manarou bukanlah Minahasa. (sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari
1679). Manarou diambil dari kata bahasa sangihe Mararau,marau
yang berarti jauh. Kerajaan ini berpusat di Pulau Menado Tua
tepatnya di tempat yang bernama negeri (desa menado tua – I,
sekarang). Kerajaan Manarou didirikan oleh Daloda Loloda Mokoagow
pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah
orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini,
terjemahan Joost Kulit.) Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867,
Kerajaan ini hancur akibat perang berkepanjangan dengan Kerajaan
Bolaang.
b. Kerajaan Kolongan.
Kerajaan ini menggantikan kedudukan kedatuan
Mangsohoang. Diawal kedatangan Eropa, kerajaan ini
Diperintah oleh raja Pontoralage pada pertengahan tahun
1500.
c. Kerajaan Siau.
Diawal kedatangan Bangsa Eropa, Kerajaan ini Dibawah
kekuasaan Raja Passuma. Masa pemerintahan Pasumah
tahun 1540-1575. Raja Passuma meninggal tahun
1587,dan diganti oleh anaknya Don Jeronimo
(Pontowuisang / Betewiwihe)Tanggal 16 Agustus 1593,
Don Jeronimo mengucapkan sumpah setia kepada
pemerintah Spanyol di Manila melalui gubernur Spanyol
Gomez Perez Dasmarinas. Don Jeronimo memperanakan
Winsulangi. Tahun 1619, Raja Winsulangi dibaptis di
Paseng dan menjadi Don Jeronimo Winsulangi.
108
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
(D.Brillman,Zending di Kepl.Sangi dan Talaud). Don
jeronimo Winsulangi diganti oleh anaknya Batahi, 1642-
1678. Pusat kerajaan dipindahkan dari Paseng ke Pehe.
d. Kerajaan Tabukan,
Raja yang memerintah kerajaan tabukan dimasa awal kedatangan
bangsa Eropa adalah raja Wuateng sembah (Pahawuateng). Kerajaan
ini berpusat di Sahabe. Wuateng memperisteri Tasikoa,putri Ratu
Lohoraung dari Taghulandang. Wuateng sembah diganti oleh
anaknya Markus Vasco da Gama. (Gamang Banua). Raja ini
memerintah disaat Spanyol masuk di Tabukan.
KOMPLEKS ISTANA KERAJAAN TABUKAN
Periode ke dua
1. Kerajaan Tahuna dengan nama lain Malahasa,
Berpusat di bukide Tahuna. Kerajaan Tahuna didirikan oleh raja
Tatehewoba (Ansawuwo) putra raja Pontoralage tahun 1580 – 1625.
Tatehe memperisteri Doloweli anak dari Makaampo dengan isteri
Timbangsehiwu. Tatehewoba diganti oleh anaknya Buntuang, lau
diganti lagi oleh anaknya Don Marthin Tatandangnusa.
2. Kerajaan Kendahe dengan nama lain Malinggaheng, berpusat di
Makiwulaeng. Raja pertama kerajaan kendahe bernama Egaliwutang
109
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
(Mehegalangi) putra dari Sultan Ahmad di Mindanao. Memerintah
tahun 1600-1640. Egaliwutang diganti oleh anaknya Wuisan. Raja
Wuisan pindah ke Minahasa sejak kembali dari Mindanao setelah
mengetahui isterinya sudah kawin dengan orang lain.
Keberadaannya di Minahasa tidak diketahui. Kedudukan raja Wuisan
diganti oleh anaknya Syam Syach Alam.
3. Kerajaan Taghulandang dengan nama lain Mandolokang, berpusat
di Tulusan.Raja pertama kerajaan Taghulandang adalah seorang
perempuan bernama Lohoraung. Masa pemerintahannya 1570-1609.
4. Kerajaan Manganitu dengan nama lain Maobungang, Kerajaan
Manganitu didirikan oleh Tolosang (liung tolosang) dengan nama
kerajaan Kauhis, pada tahun 1600. Kekuasaannya berlangsung sampai
tahun 1645. Pemberian nama Maobungang diambil dari kisah
seorang pemberani dari Barangkalang bernama Lumanu yang
memiliki ilmu sakti dari asap rokok. Ilmu tersebut kemudian
terwaris kepada Raja Manuel Hariraya Mokodompis (tanawata).
Pusat kerajaan pertama terletak di Bowongtiwo (kampung kauhis
sekarang). Tolosang adalah anak dari Jogugu Naleng dari Manganitu
dengan isterinya Kaeng (lekung) Patola. Kaeng patola adalah anak dari
Kulano Makalupa dan Kindi Sangiang. Tolosang kemudian
memperisteri Ahungsehiwu dan memperanakan Tompoliu dan
Lembungsengsale. Tahun 1645 sampai 1670, Tompoliu menjadi raja
atas kerajaan Manganitu dan memindahkan pusat kerajaan dari
Bowongtiwo ke Tatahikang. Tompoliu memperisteri Lawewe dan
memperanakan Bataha Santiago, Charles Diamanti, Sapelah, Apueng
dan Gaghinggihe.
Sejak Tompoliu meninggal, kekuasaan raja di ganti oleh Bataha
Santiagho. Santiago adalah raja sangihe pertama yang menentang
VOC dimasa akhir kekuasaan VOC. Sejak di bunuhnya Santiago oleh
VOC, kekuasaan raja tidak lagi berdasarkan kemonarkian keluarga
raja tetapi berdasarkan keinginan VOC dan berlangsung terus
sampai masa Kolonialisme bahkan sampai pada masa pendudukan
Jepang. Pada masa pemerintahan Willem Manuel Pandensolang
Mokodompis, raja ini berkuasa atas tiga wilayah yaitu kerajaan
Tahuna, Kerajaan Manganitu di Karatung soa dan Kerajaan
Manganitu di Tamako. Hal ini terjadi karena pengaruh kekuasan
Belanda.
110
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
ISTANA KERAJAAN MANGANITU
PADA MASA PEMERINTAHAN
RAJA WILLEM MANUEL PANDENSOLANG MOKODOMPIS
DAN BAJU RAJA TANAWATA MOKODOMPIS
Sistem Monarki kerajaan-kerajaan Sangihe berakhir sejak dimulainya
Pemerintahan Kolonial Belanda. Kekuasaan belanda mulai menguat di Sangihe
setelah beberapa Raja menandatangani perjanjian persahabatan (Lange Verklaring
Contrac) mulai dari tahun 1677. Raja – raja yang tunduk adalah : Fransiscus
Makaampo Juda – I Raja Tabukan, Don Marthin Tatandangnusa raja Tahuna,
Takaengetang (Djoutulung) Raja Manganitu. Wuisan Raja Kendahe, Philips Anthoni
Aralungnusa Raja Taghulandang, Don Jeronimo Winsulangi Raja Siau. Sejak saat itu
pengangkatan raja dilakukan tidak lagi berdasarkan garis keturunan waris raja kepada
anak laki-laki tertua tetapi diangkat berdasarkan kepentingan Belanda.
111
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
DAFTAR PUSTAKA
1 A.Horohiung, Santiago melawan VOC
2 Abay D. Subarna dan Tim, Sistim Tulisan dan Kaligrafi, Lembaga
Pendidikan Seni Nusantara2006
3 Ayip Rosidi, Puisi Indonesia - I, 1969
4 Bustanuddin Agus,Agama dalam kehidupan manusia,pengantar
antropologi agama.PT. Raja Grafindo Perkasa.2006
5 Cut Kamaril Wardani,Ratna Panggabean,Tekstil,Lembaga Pendidikan Seni
Nusantara,2005
6 D.Brillman, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud.(terjemahan)BPH
Sinode GMIST,1986
7 D.J. Walandungo, Tesis, Islam Tua, terpasung dan merana.
8 Dr. H. Berkhof, Dr. I.H. Enklaar,Sejarah Gereja,BPK Gunung Mulia, 1987
9 Dr. Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil,BPK Gunung Mulia, 2006
10 Dr. Harun Hadiwijono,Religi Suku Murba, BPK Gunung Mulia, 2006
11 Drs. Bakar Hatta, Sastra Nusantara,1982
12 Esther L. Siagian, GONG,Lembaga Pendidikan Seni Nusantara, 2006
13 Gideon Makamea, Tulisan lepas tema sejarah dan budaya sangihe.
14 Gideon Makamea, Mempelajari Ungkapan Dan Sastera Daerah, 2003
15 Gideon Makamea, Prospek Budaya Dan Tradisi-tradisi historis daerah
Kepulauan Sangihe dan Talaud. 2008
16 Hasil Sarasehan Budaya Sangihe Talaud,Tahuna,1994
17 I Wayan Dibia, Tari Komunal, Lembaga Pendidikan Seni Nusantara,2006
18 Irwansyah Harahap, Alat Musik Dawai, Lembaga Pendidikan Seni
Nusantara,2005
19 Jhon Rahasia, Penemuan Kembali Tagaroa.Yayasan Tagaroa,1975
20 Johanis Saul.M.Hum. Ragam Hias Sangihe
21 Decroly Juda,S.Pd, Tata Bahasa Sangihe
22 L. Bons, Kamus Bahasa Belanda,Inggris,Indonesia.1954
23 Kenneth R. Maryott,Hamerson Juda. Manga wĕkeng AsaĜ ‘u Tau Sangihĕ
24 Laporan kunjungan Gubernur Jendral Belanda di Kerajaan Tabukan 1927
25 Makalah Seminar, Budaya Bahari Dalam Tradisi Lisan Daerah Satal,Paul
Nebath,Tahuna,2004
26 Martoji, Sejarah Untuk SMP kelas VII,Erlangga2004
112
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
27 Materi pelatihan terintegrasi,Ilmu Pengetahuan Sosial,2005
28 Muhamad Yamin, Atlas Sedjarah,Djambatan 1956
29 N. Graafland, Minahasa Masa lalu dan Masa kini
30 Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa,Cheng HO,2005
31 Prof.Dr.J.Turang,dkk. Profil Kebudayaan Minahasa. Majelsi Kebudayaan
Minahasa,1997
32 Putu Wijaya, Teater,
33 Sastra lisan Bolaang Mongondow
34 Sosiologi dan Anthropologi SMA,1987
35 Tarian Alabadiri, Tim Kesenian Kab Satal,1995
36 Tatimu, hasil sarasehan budya,musik oli’.
37 Toponimi,cerita rakyat dan data sejarah dari kawasan perbatasan nusa
utara,Diknas Kab.Kepl.Sangihe.
38 Wiyoso Yudoseputro, Pengantar wawasan Seni Budaya,Dep P & K, 1993.
39 Metty M. Bawelle, Pengaruh sponsor Terhadap Pengembangan seni
Masamper di Kecamatan Malalayang Kotamadya Manado
113
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
DAFTAR NARA SUMBER
NO NAMA NARA
SUMBER
ALAMAT INFORMASI YANG
DITERIMA
1 Gidion Makamea Tahuna Cerita Gumansalangi
2 Bpk Mahare Biru Tamo
3 M. Madonsa Tahuna Sejarah Kerajaan
4 R. Radangkilat
(alm)
Cerita Apapuhang
5 Bahagia Diamanis Tahuna Cerita Santiago dan Tamo
6 Bpk Barahama Karatung I Cerita Santiago
7 Bpk Letunggamu Pananaru Cerita Dumpaeng
8 Ibu Antarani Pananaru Tari Gunde
9 Ibu Antarani Kauhis Tamo
10 Bpk. A. Sinadia Kauhis Silsilah Sinadia
11 Bpk. Makansing
(alm)
Perahu Sangihe
12 H. Galangbulaeng Karatung II Perahu Sangihe
13 K. Mare Karatung I Masamper
14 Wawu Mawira Manganitu Kehidupan Istana
15 Bpk Ulis (alm) Manganitu Silsilah Raja-raja Manganitu
16. R. Sianaeng Tahuna Rumah Ikat Lehupu
17 Umbure
Kalengghihang
Manumpitaeng Musik Oli dan Tenun Sangihe
18 Bpk Malemboris Manumpitaeng Upacara Sundeng
114
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
PROFIL PENULIS.
Nama : Alffian W.P. Walukow.
Ttl : Wiau Lapi, 28 Mei 1972
Pekerjaan : Guru di SMP Negeri 5
Tabukan Utara,
Kab. Kepulauan Sangihe
Pendidikan : S-1 / Seni Rupa UNIMA
Alamat : Kampung Lenganeng,
Kec. Tabut
Kab. Kepl. Sangihe
Nama Isteri : Metty. M. Bawelle, S.Pd
Nama anak : Theabella Natasha Walukow
Theovinci Nathanael Walukow
1992-1995 : Aktif berpameran karya study
Dan pergelaran seni mahasiswa seni rupa.
Tahun 1994 : Aktif menulis puisi dan sudah diterbitkan
± 70 -an judul dalam berbagai edisi di
beberapa surat kabar Manado.
Tahun 1994 sampai 2001 : Merancang dan membuat Taman
sebanyak ± 150 taman rumah tinggal
yang tersebar di kota Manado.
Tahun 1996 sampai 1998 : Menjadi Salah satu penata Ruang
pertemuan di Aula Kantor Wali Kota Manado
dan acara-acara Dharma wanita / PKK
Kotamadya Manado Dibawah pengawasan
Ir. Ny.V.Rorong Raung (sebagai sekretaris
PKK Kodya Manado. Merancang Pohon
115
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Natal Tertinggi Indonesia ( tinggi 16 meter )
dan
Patung Santa Claus ( tinggi 5 meter )
pada acara Ibadah Natal Bersama Propinsi
Sulawesi Utara yang dilaksanakan
dilapangan Tikala. Merancang dan
membuat Lampion Artistik Natal dan Idul
Fitri di tempat-tempat strategis Kota
Manado.
Tahun 2002 sampai sekarang : Mengelola sanggar Seni dan Ketrampilan.
Bidang pengembangan, Souvenir,
Sablon,keterampilan dan kerajinan daerah.
Tahun 2004 :
- Mengikuti lomba inovasi guru dalam
bentuk karya tulis dengan judul “
Metode Imaginasi dalam Pembelajaran
Sejarah” tingkat propinsi SULUT.
- Merancang Kue Ulang Tahun Tradisional
Minahasa Selatan dengan 10 ribu buah
kue tradisional ( tinggi 4,5 meter )
- Merancang pembuatan Dodol Raksasa (
panjang 10 meter – garis tengah 50 cm )
pada peringatan Hari Ulang Tahun
Pertama Minsel.
Tahun 2005 – sekarang : Aktif menulis artikel journal tema sejarah
dan budaya dibeberapa surat kabar
Manado. Diantaranya Santiago Pahlawan
Indonesia yang dilupakan,Sejarah Sam
Ratulangi, Sejarah Walanda Maramis.
116
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
Tahun 2006 : Menciptakan rekor baru MURI. Merancang
Pembuatan Kue adat Sangihe “TAMO”
sebagai Kue adat terbesar sepanjang
Sejarah Indonesia dan tercatat dalam Buku
Recor Indonesia di Museum Record
Indonesia.Dokumentasi kue adat ini sudah di
pajang di Candi Borobudur,sebagai Rekor
terbaru dan paling lain pada jenisnya.
Tahun 2007 : Mengikuti sayembara logo Kabupaten
Sitaro.
Tahun 2008 : Merancang kurikulum Mulok Potensi
daerah. Tingkat SD-SMP-SMA.
Tahun 2009 : - Pemenang I lomba karya nyata
tingkat Propinsi. Judul Karya “ Kursus
souvenir besi kampung Lenganeng”.
- Mengikuti Lomba Karya Nyata Pengelola
kursus keterampilan PTK-PNF tingkat
Nasional di Jogyakarta.
Yang sudah dikerjakan di
Sangihe adalah : Menata halaman Gereja GMIST ULU
Siau,Menata halaman Gereja GMIST PETRA
Manganitu, Pembuatan kolam Hias Kantor
Dinas Diknas Kab.Kepl.Sangihe.
117
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
BEBERAPA HASIL RANCANGAN
TAMO RAKSASA
Guntingan koran KOMENTAR ,
edisi Kamis, 2 February 2006
Desain logo siau untuk sayembara
118
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
KUE ULANG TAHUN TRADISIONAL PERTAMA DAN TERTINGGI
Bupati Minahasa Selatan, Ramoy Luntungan dengan latar belakang kue ulang
tahun. Karya Alffian Walukow. Terbuat dari kue-kue khas Minahasa, sejumlah
10.000 bungkusan kue tradisional. ( Guntingan Koran Manado Post, Edisi Selasa 10
Agustus 2004 )
119
KEBUDAYAAN SANGIHE - ALFFIAN WALUKOW - 2009
DODOL TERPANJANG DIDUNIA
PANJANG 12 METER, BERAT ± 800 Kg, Garis tengah, bagian tengah kue 50 cm.
Pelengkap Pameran dalam rangka HUT - 1 Kab. Minahasa Selatan di Amurang.Pada
pembukaan pameran telah dibeli oleh Gubernur J.A.Sondakh sepanjang 2 meter
dengan harga Rp. 2.000.000,-
( Guntingan Koran Manado Post, Edisi Selasa 10 Agustus 2004 )

3 komentar:

  1. Hallo,
    Universitas gunadarma sekarang telah membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2013-2014, untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi situs nya di http://pendaftaran.gunadarma.ac.id/2013/

    BalasHapus
  2. Halo,
    Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Jakarta sekarang telah membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2013-2014. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi situsnya di http://jak-stik.ac.id/

    BalasHapus